Iklim Investasi Kian Kondusif, Momentum IPO Berlanjut di Pasar Modal Indonesia

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
KOMPAS.com – Aktivitas initial public offering (IPO) yang terus berlangsung di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai menjadi indikator terjaganya kepercayaan dunia usaha terhadap pasar modal nasional.

Pemerintah pun terus mendorong pendalaman pasar modal sebagai salah satu sumber pembiayaan jangka panjang untuk memperkuat dunia usaha sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut positif berlanjutnya aktivitas IPO di pasar modal Indonesia.

“Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama BEI yang baru. Ini IPO pertama kali (sejak menjabat),” ujarnya, dikutip dari laman ekon.go.id, Rabu (8/7/2026).

Hal itu disampaikan Airlangga dalam acara Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia sekaligus Pencatatan Perdana Saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Baca juga: Usai IPO, JELI Bidik Pertumbuhan 26 Persen, Siapkan Produk Baru dan Genjot Ekspor

Momentum IPO kali ini menjadi yang kedua sepanjang 2026 di tengah dinamika pasar saham yang masih cukup tinggi.

Meski demikian, berlanjutnya aktivitas IPO mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.

Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang tetap kuat, meningkatnya investasi, serta berbagai reformasi pemerintah untuk memperbaiki iklim usaha.

Salah satu sektor yang menjadi penopang utama adalah industri makanan dan minuman.

Baca juga: Airlangga Respons Isu Krisis Lapangan Kerja: Dunia Usaha Masih Terus Ekspansi

Pada triwulan I 2026, sektor tersebut berkontribusi sebesar 7,31 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 7,20 persen.

Selain itu, industri makanan dan minuman mencatat pertumbuhan 7,04 persen, didorong meningkatnya permintaan selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Kinerja positif juga tecermin dari realisasi investasi di sektor makanan dan minuman.

Pada triwulan I 2026, realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp10,48 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp16,34 triliun.

Menurut pemerintah, capaian tersebut menunjukkan tingginya minat investor terhadap sektor riil sekaligus menandakan pasar domestik tetap bergairah, daya beli masyarakat terjaga, dan iklim investasi nasional semakin kondusif.

Baca juga:… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Rabu, 08 Juli 2026 17:31:00 WIB*