Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Kenaikan 24,43% ke level ARA di hari perdagangan menunjukkan permintaan yang jauh melampaui pasokan — praktis tidak ada penjual yang bersedia melepas saham di bawah batas atas harga. Bagi investor yang mendapatkan penjatahan di harga IPO Rp442, keuntungan di atas kertas sudah mencapai Rp108 per saham hanya dalam waktu singkat.
Hasil ini terbilang istimewa mengingat penjamin emisi BACH, PT Erdikha Elit Sekuritas, dikenal konservatif dalam penetapan harga dan bukan tipe underwriter yang agresif membangun euforia ritel. Artinya, lonjakan harga BACH lebih banyak ditopang oleh fundamental dan valuasi yang menarik — bukan sekadar hype.
Data broker summary perdagangan 8 Juli 2026 memberikan gambaran menarik tentang siapa yang menggerakkan saham BACH:
Pola ini cukup umum terjadi pada IPO yang sukses: pembeli besar terus mengakumulasi saham hingga harga terkunci di ARA, sementara sebagian investor ritel — tercermin dari posisi Stockbit (XL) sebagai top seller — memilih merealisasikan keuntungan cepat dari penjatahan IPO. Menariknya, nilai beli top buyer hampir tiga kali lipat nilai jual top seller, menandakan tekanan beli yang masih dominan.
PT Bach Multi Global Tbk berdiri sejak 2006 dan menjalankan dua lini bisnis utama: penjualan dan penyewaan genset sebagai agen tunggal merek Himoinsa di Indonesia, serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi yang mencakup sekitar 41.000 site di seluruh Indonesia. Kliennya termasuk nama-nama besar seperti Protelindo Group (TOWR), Telkomsel, XL Axiata, Link Net, dan Indosat.
Dalam IPO ini, BACH melepas 615 juta saham baru (15,06% dari modal disetor pasca-IPO) dan menghimpun dana sekitar Rp271,8 miliar di harga final Rp442. Mayoritas dana akan digunakan untuk pembelian armada genset baru (~70%) dan modal kerja (~30%).
Ada beberapa alasan mengapa prospek BACH ke depan tetap menarik dicermati setelah euforia hari pertama:
Fundamental bertumbuh pesat. Pendapatan BACH tumbuh 39,66% menjadi Rp2,15 triliun pada 2025, dengan laba bersih melonjak 97,54% menjadi Rp155,6 miliar. Pertumbuhan dua digit selama dua tahun berturut-turut ini ditopang recurring revenue dari kontrak pemeliharaan site telekomunikasi.
Valuasi masih relatif murah. Di harga IPO Rp442, PER BACH berada di kisaran 11–12x — jauh di bawah rata-rata emiten infrastruktur telekomunikasi seperti TOWR dan MTEL yang diperdagangkan di atas 20x. Bahkan setelah ARA ke Rp550, valuasinya masih tergolong wajar untuk perusahaan dengan pertumbuhan laba men… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Rabu, 08 Juli 2026 22:30:00 WIB*