PT Indosat Tbk (ISAT), juga dikenal sebagai Indosat, telah memutuskan untuk melepas aset fiber senilai Rp11,7 triliun dan membawa kenaikan pro-forma kas sebesar Rp5,8 triliun. Dengan penjualan ini, manajemen ISAT memperkirakan mendapatkan keuntungan satu kali (one-off gain) sekitar Rp 1,65 triliun pada tahun anggaran 2026. Menurut Riset CGS International Sekuritas Indonesia, transaksi ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi Indosat dalam mengalokasikan modal.
Dalam dokumen resmi perusahaan terkait penjualan aset fiber optik tersebut, ditunjukkan bahwa ISAT telah menjual sekitar 84,9% saham di PT Infra Fiber Teknologi (IFT) kepada PT Nusantara Fiber Teknologi. Transaksi ini juga melibatkan inbreng atas sisa kepemilikan IFT oleh Indosat dan anak usahanya, Lintasarta.
Transaksi tersebut mengakibatkan ISAT memperoleh 49,1% saham di PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT) – perusahaan yang baru saja dibeli. Ini merupakan bagian dari strategi untuk memperkuat fokus Indosat pada bisnis inti dan digital teknologi.
Dalam konteks ekonomi internasional, transaksi ini juga menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih dalam periode pertumbuhan yang positif, terutama di tahun 2026. Peningkatan perputaran uang mencapai Rp11,7 triliun berpotensi memperkuat posisi bisnis Indosat dan memberikan peluang bagi perusahaan lain untuk mengeksplorasi pasar lebih dalam.
Pendekatan manajemen Indosat terhadap penjualan aset fiber juga mewakili langkah strategis mereka dalam mengoptimalkan sumber daya dan keuangan, yang penting di masa depan. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa transaksi seperti ini dapat menjadi salah satu cara bagi perusahaan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam operasional mereka.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** ISAT
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Senin, 06 Juli 2026 16:32:23 WIB*