Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pada Senin (6/7/2026) menjadi masa terakhir initial public offering (IPO) PT Bach Multi Global Tbk (BACH). BACH dinilai memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan kebutuhan listrik cadangan (backup power) dan ekspansi infrastruktur digital nasional.
Di tengah masih berlangsungnya masa penawaran umum perdana saham (IPO), Semesta Indovest Sekuritas dalam riset 2 Juli 2026 menilai model bisnis perusahaan yang menggabungkan penyediaan genset dengan jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menjadi keunggulan kompetitif di tengah berkembangnya industri.
BACH tidak hanya mengandalkan penjualan dan penyewaan generator set (genset), tetapi juga memperoleh pendapatan dari pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Kombinasi tersebut dinilai memberikan peluang cross-selling karena operator telekomunikasi membutuhkan pasokan listrik yang andal sekaligus layanan operasional untuk menjaga keandalan jaringan.
Baca Juga: IPO RANS Masih Berlangsung, PER Lebih Murah dari Industri Tapi Awas Risikonya
“Model bisnis yang terintegrasi membuka peluang perusahaan menangkap permintaan dari kebutuhan genset, mobile backup power, maintenance site, fiberisasi, hingga pembangunan infrastruktur digital,” tulis Semesta Indovest dalam riset.
Prospek tersebut ditopang oleh kinerja keuangan yang tumbuh signifikan sepanjang 2025. Perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar Rp 1,73 triliun atau meningkat 39,7% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama didorong pertumbuhan bisnis penjualan dan penyewaan genset.
Peningkatan pendapatan turut mendorong perbaikan profitabilitas. Laba bersih melonjak 97,5% secara tahunan menjadi Rp 156 miliar, sementara margin laba bersih alias net profit margin (NPM) meningkat menjadi 9% dari sebelumnya 6,3%.
Semesta Indovest mencatat bisnis penjualan dan penyewaan genset menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan sekitar Rp 978 miliar atau 56,4% dari total pendapatan perusahaan pada 2025.
Sementara itu, segmen jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi menyumbang sekitar Rp 755 miliar atau 43,6% dari total pendapatan.
Menurut analis, komposisi tersebut membuat BACH tidak bergantung pada satu lini usaha. perusahaan masih memiliki peluang memperoleh pendapatan dari berbagai aktivitas seperti pembangunan site telekomunikasi, fiberisasi, preventive maintenance, corrective maintenance, hingga mobile backup po… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 05 Juli 2026 14:39:26 WIB*