Blue Chip Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Semester II 2026, Cek Pilihan Saham!

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID  – JAKARTA. Pergerakan harga saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang semester I 2026 masih tertekan. Meski demikian, sejumlah analis menilai peluang pemulihan pada semester II 2026 tetap terbuka, terutama apabila arus dana asing kembali masuk dan kondisi makroekonomi mulai membaik.

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di pasar modal dan memiliki fundamental keuangan yang kuat. Saham blue chip biasanya memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tinggi.

Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor seperti LQ45. Pergerakan indeks saham unggulan LQ45 masih berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan

Berdasarkan data perdagangan hingga Jumat (3/7/2026), indeks LQ45 terkoreksi 31,28% secara year to date (YtD). Penurunan tersebut hampir sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 32,05% pada periode yang sama.

Tekanan terhadap LQ45 tidak terlepas dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut pada saham-saham berkapitalisasi besar. Sepanjang 2026, investor asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp74,42 triliun di seluruh pasar reguler.

Tonton: Korupsi MBG Seret Polisi dan TNI Aktif, Peneliti UGM: Potensi Abuse of Power Sangat Tinggi!

LQ45 Tetap Menjadi Acuan Memilih Saham Blue Chip

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan indeks LQ45 masih relevan dijadikan acuan awal dalam memilih saham, terutama bagi investor yang mengutamakan likuiditas tinggi dan kualitas fundamental emiten.

Namun menurutnya, investor tidak cukup hanya mengandalkan status saham sebagai anggota LQ45. Seleksi tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi, tata kelola, tingkat free float, hingga sensitivitas terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan suku bunga.

“LQ45 tetap relevan sebagai acuan awal, tetapi bukan satu-satunya filter investasi. Kami mengutamakan saham likuid dengan fundamental kuat dan menghindari value trap,” ujar Liza kepada Kontan, Jumat (3/7).

Indeks LQ45 sendiri merupakan kumpulan saham dengan kapitalisasi pasar besar dan tingkat likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Karena didominasi saham blue chip, pergerakan indeks ini kerap menjadi indikator utama minat investor institusi, termasuk investor asing.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas, Tapi Sentimen Domestik Masih Membayangi

Faktor yang Berpotensi Mendorong Re… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Senin, 06 Juli 2026 04:20:59 WIB*