KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penurunan harga minyak dunia dan pemberian insentif bea masuk untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) diharapkan akan membawa sentimen positif bagi sektor petrokimia, terutama emiten-emenya Petrokimia yang telah menjadi target utama dalam berita saham hari ini. Data dari Bloomberg menunjukkan penurunan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sebesar 11 sen atau 0,16% pada Kamis (2/7/2026), mencapai level US$ 68,69 per barel. Sementara itu, nafta sebagai bahan baku petrokimia turun signifikan sebesar 19,04%, ke level US$ 613,74 per ton. Penurunan harga ini diikuti dengan pemberian insentif bea masuk untuk impor LPG oleh pemerintah, yang akan menguntungkan industri petrokimia dan bahan baku plastik. Sejumlah emiten Petrokimia telah diperkirakan dapat memperbaiki margin laba mereka, terutama jika spread harga LPG dan nafta kompetitif menjadi lebih sehat. Kepala Riset dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan bahwa penurunan harga nafta akan berkontribusi pada kenaikan utilisasi pabrik dan potensi dividen yang lebih besar bagi emiten-emenya. Ini adalah tren yang telah terjadi sejak beberapa bulan terakhir, meskipun mayoritas pengguna minyak mentah masih melakukan pembelian bahan baku melalui kontrak jangka waktu tertentu. Namun demikian, penurunan harga ini dapat menjadi kesempatan bagi emiten untuk mengamankan persediaan yang lebih murah dan memperbaiki margin laba mereka dalam jangka waktu yang lebih lama.
**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** –
*Tanggal Source Berita: Jumat, 03 Juli 2026 06:45:49 WIB*