Emiten-Emiten Petrokimia Diprediksi Menjadi Saham Pilihan Seiring Sentimen Positif Harga Minyak dan LPG

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emitter-emitter petrokimia telah menjadi salah satu target dalam berita saham hari ini, dengan penurunan harga minyak dunia dan pemberian insentif bea masuk untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dengan adanya perbaikan margin laba, sejumlah emiten petrokimia diharapkan dapat mengimbangi kenaikan harga minyak secara langsung.

Mengikuti perkembangan pasar, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa sentimen positif terkait penurunan harga nafta dan insentif LPG dapat menjadi katalis bagi sektor petrokimia. Penurunan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) yang mencapai US$ 67,06 per barel selama ini telah menyebabkan penurunan harga nafta hingga 19,04% ke level US$ 613,74 per ton. Dengan adanya bea masuk LPG dengan beban yang lebih rendah, emiten petrokimia diperkirakan akan dapat mengendalikan biaya produksi dan meningkatkan margin laba.

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menambahkan bahwa efek langsung penurunan harga minyak dapat dihindari oleh emiten petrokimia yang menggunakan kontrak jangka waktu untuk pembelian bahan bakunya. Namun, dampak positif dari sentimen ini terlihat setelah berbagai aspek seperti biaya produksi dan persediaan diterapkan.

Dalam konteks tersebut, KISI menekankan bahwa penurunan harga minyak dan insentif impor LPG dapat membawa manfaat yang signifikan bagi sektor petrokimia. Ini bukan hanya berpotensi memperbaiki kinerja beberapa emiten, tetapi juga mungkin menjadi kesempatan bagi emiten lain untuk mengoptimalkan penawaran mereka dan meningkatkan nilai sahamnya di pasar modal.

Akademisi dan analis sejauh ini telah menegaskan bahwa sentimen positif terkait tren harga minyak dan LPG dapat berdampak signifikan pada performa emiten petrokimia. Dengan demikian, investor dan perusahaan manajemen diperlukan untuk terus mengawasi perkembangan pasar ini agar mereka dapat membuat keputusan investasi yang tepat dan menciptakan strategi bisnis yang efektif dalam situasi ini.

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang potensi emiten petrokimia, investor dapat mempertimbangkan saham dari perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan adanya sentimen positif terkait penurunan harga minyak dan insentif impor LPG, beberapa saham yang dijadikan rekomendasi oleh ahli pasar meliputi ANTM, INCO, dan MBMA.

Kontan.co.id – JAKARTA. Emiten-emiten produsen petrokimia dapat bernapas lega. Hal ini seiring adanya sentimen positif seperti penurunan harga minyak dunia yang disertai pemberian insentif untuk bahan baku alternatif petrokimia.

Mengutip situs Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bergerak di level US$ 67,06 per barel pada Kamis (2/7/2026) pukul 18.40 WIB. Dalam sebulan terakhir, harga minyak WTI telah terkoreksi 29,29%.

Bersamaan dengan itu, harga nafta selaku bahan baku petrokimia yang terbuat dari minyak bumi mengalami penurunan 19,04% ke level US$ 613,74 per ton.

Tak hanya itu, pada pertengahan Juni 2026 lalu, pemerintah mengumumkan pemberian insentif bea masuk 0% untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) bagi industri petrokimia dan bahan baku plastik.

Baca Juga: Prospek Emiten Baja Masih Bersinar di Semester II 2026, Ini Saham Paling Favorit

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan harga nafta seiring koreksi harga minyak dunia dan pembebasan bea masuk impor LPG menjadi katalis positif bagi sektor petrokimia.

Dengan adanya LPG impor yang tidak dikenakan bea masuk, hal ini akan menciptakan diversifikasi bahan baku sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap nafta yang kebetulan harganya juga sudah turun. Emiten petrokimia pun berpeluang memperbaiki margin laba, terutama jika spread harga LPG dan nafta kompetitif.

**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** –

*Tanggal Source Berita: Kamis, 02 Juli 2026 19:54:57 WIB*