Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA, KOMPAS.com – Minat investor ritel terhadap saham initial public offering (IPO) terus meningkat karena potensi keuntungan yang besar pada awal perdagangan.
Namun, investor diingatkan tidak membeli saham IPO hanya karena takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO).
Antusiasme investor meningkat seiring rencana beberapa perusahaan yang bakal melantai di pasar modal, salah satunya PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.
Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, mengungkapkan ada sepuluh hal penting yang wajib dipahami investor agar keputusan membeli saham IPO didasarkan pada analisis yang matang, bukan sekadar mengikuti euforia pasar.
Baca juga: Pasar IPO Bergairah, 8 Perusahaan Antre Melantai di Bursa
Jangan hanya tergiur potensi cuan. Faris memastikan investor ritel perlu memperhatikan sepuluh faktor penting sebelum membeli saham IPO agar investasi didasarkan pada analisis, bukan sekadar mengikuti tren.
Prospektus adalah “kitab suci” dalam investasi IPO. Di tahap ini, penjabarannya bukan sekadar membaca ringkasan, melainkan membedah bagian-bagian penting:
Struktur kepemilikan dan lock-up period: Mengecek siapa pembeli saham sebelum IPO (pre-IPO investor) pada harga berapa, dan apakah saham pendiri/investor awal dikunci (lock-up) selama 8 bulan. Jika tidak di-lock, ada risiko mereka langsung dumping (jual masif) saat IPO.
Opini auditor dan catatan atas laporan keuangan: Pastikan laporan keuangan memperoleh opini wajar tanpa pengecualian, serta teliti catatan atas laporan keuangan untuk mengetahui adanya kewajiban tersembunyi, transaksi afiliasi, maupun aset yang dijaminkan.
“Memastikan laporan keuangan diaudit secara wajar tanpa pengecualian, serta membaca “catatan kaki” untuk melihat kewajiban tersembunyi, transaksi afiliasi, atau aset yang dijaminkan,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Selasa (30/6/2026).
Peran underwriter sangat penting karena berpengaruh terhadap likuiditas saham pada masa awal perdagangan.
Investor dapat melakukan backtesting dengan melihat lima hingga sepuluh IPO terakhir yang ditangani underwriter tersebut.
Dari sana dapat diketahui apakah saham-saham yang dibawanya cenderung mengalami Auto Reject Atas (ARA) beruntun, langsung Auto Reject Bawah (ARB), atau justru bergerak lebih stabil.
Karakteristik underwriter juga perlu menjadi perhatian.
Sekuritas berkelas Tier-1, baik asing maupun BUMN besar, umumnya menangani emiten dengan… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Rabu, 01 Juli 2026 11:08:00 WIB*