Bursa Saham Asia Diprediksi Turun Akibat Sentimen Terhadap AI dan The Fed

Tim riset Danske melaporkan aksi jual saham global yang tajam, dipimpin oleh penurunan lebih dari 4% di sektor teknologi. Meskipun demikian, beberapa sektor defensif berakhir lebih tinggi. Dalam hal ini, uptrend saham-saham defensif seperti industri perbankan dan asuransi telah memberikan dukungan bagi aksi pasar.

Berdasarkan data dari Bloomberg, Saham Asia diprediksi akan turun pada Kamis (02/07/2026). Aksi jual AS terhadap chip berpotensi membebani sentimen pasar global. Di sisi lain, para investor sedang meneliti pernyataan baru dari Kevin Warsh, Ketua Federal Reserve.

Indeks saham berjangka di Australia, Jepang, dan Korea Selatan mengindikasikan penurunan pada pembukaan pasar setelah saham AS melemah semalam. Di sisi lain, Indeks S&P 500 turun 0,2%, sedangkan Nasdaq 100 yang didominasi oleh saham teknologi merosot 1,5%. Indeks semikonduktor melemah hingga 6,3%.

Berbicara di forum Bank Sentral Eropa (ECB) di Sintra, Portugal, Warsh menegaskan ekspektasi inflasi telah melambat selama sebulan terakhir. Ia juga menegaskan kembali komitmen Fed untuk memulihkan stabilitas harga. Namun, permintaan oleh pasar mengacu pada ekspektasi bahwa pembuat kebijakan tidak terburu-buru dalam hal peningkatan suku bunga.

Pada sisi lain, perusahaan PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group) kembali mengungkapkan informasi keterbukaan sebesar Rp 6 triliun. Ungkapan ini mencakup berbagai aspek bisnis dan operasional dari perusahaan yang telah diterbitkan secara publik pada Rabu (01/07/2026). Pengungkapan tersebut didukung oleh aksi jual di sektor defensif, membantu maintenasi pergerakan pasar.

**Sentimen Saham:**
* **Sentimen Positif:** –
* **Sentimen Negatif:** BUMI

*Tanggal Source Berita: Kamis, 02 Juli 2026 06:01:23 WIB*