Volatilitas IHSG Menggila 3 Hari Berturut-turut, Analis: Ketidakpastian Bertumpuk

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham Indonesia memasuki fase gejolak tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak naik-turun tajam selama tiga hari terakhir, berbeda dari biasanya yang hanya berfluktuasi di bawah 0,5% per hari.

Rentetan pergerakan IHSG yang sangat volatile dimulai pada 24 Juni 2026. Tepat di hari pengumuman annual market classification MSCI waktu Indonesia, IHSG anjlok 3,56% ke level 5.883,88 dari 6.101,33.

Sehari kemudian tanggal 25 Juni 2026, indeks bangkit 1,96% ke 5.999,04. Namun, pada 26 Juni 2026, IHSG kembali merosot 1,72% ke 5.896,13.

Head Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyebut kondisi ini sebagai structural repricing. Menurutnya, pasar sedang menyesuaikan harga akibat tumpukan ketidakpastian.

Penyebab pertama datang dari MSCI. Meski memutuskan Indonesia tetap di emerging market, MSCI masih menyorot transparansi struktur kepemilikan saham, penentuan free float, dan indikasi perdagangan terkoordinasi. Hal ini terus membebani penilaian investability pasar Indonesia.

Indonesia sementara bertahan pada status emerging market pada MSCI 2026 Market Classification Review
© Foto oleh Wahyu Tri Rahmawati

Baca Juga: Capaian 5 Bulan BBTN Masih Apik, Kenapa Sahamnya Malah Menukik?
 

 

 

MSCI akan menilai efektivitas reformasi pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia berdasarkan dampak nyata, bukan hanya kebijakan di atas kertas. Jika progres belum memadai pada MSCI Index Review November 2026, MSCI bisa membuka konsultasi penurunan status ke frontier market.

Penyebab kedua datang dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) Rate yang berada di level tinggi. Sebagaimana diketahui, BI mengerek suku bunga sebanyak tiga kali dalam sebulan sebesar 100 bps ke 5,75% dari 4,75%.

Penyebab ketiga, nilai tukar rupiah yang belum stabil di kisaran Rp 17.900 sampai Rp 18.000 per dolar AS. Level itu melemah jauh dibanding akhir 2025 dan awal Januari 2026 yang masih berada di Rp 16.700-an.

Wafi memperkirakan volatilitas tinggi IHSG masih akan berlanjut dua sampai empat pekan ke depan sebelum pasar menemukan keseimbangan atawa equilibrium baru. “Volatilitas reda setelah ada clarity event, yaitu passive outflow MSCI selesai, rupiah stabil, dan kebijakan fiskal tidak dibenahi sehingga tidak semakin memperburuk prospek keuangan Indonesia,” ungkap Wafi saat dihubungi KONTAN, Jumat (26/6).

Direktur Infovesta Uta… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 28 Juni 2026 15:00:57 WIB*