Harga bitcoin terus melemah, Strategy makin tertekan

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
NEW YORK – Tekanan terhadap Strategy, perusahaan pemegang Bitcoin terbesar yang dipimpin Michael Saylor, semakin meningkat seiring melemahnya harga Bitcoin.

Seperti dikutip Yahoo Finance pada Jumat (26/06), struktur pendanaan perusahaan kini menjadi sorotan karena dinilai memperbesar beban keuangan saat harga aset kripto turun.

Sejak tahun lalu, Strategy menerbitkan sejumlah saham preferen berdividen tinggi untuk mendanai pembelian Bitcoin. Namun, ketika harga Bitcoin terus melemah, kewajiban pembayaran dividen perusahaan justru meningkat sehingga mempersempit ruang keuangannya.

Saham Strategy pada Kamis turun ke level terendah dalam lebih dari dua tahun, dengan penurunan sekitar 46% dalam 30 hari terakhir. Sementara itu, saham preferen Stretch (STRC), yang semula ditujukan untuk diperdagangkan di kisaran US$100, sempat merosot hingga sekitar US$74.

Kondisi tersebut menempatkan Strategy dalam posisi sulit. Di satu sisi, perusahaan perlu membangun kembali cadangan kas untuk menopang saham preferennya. Di sisi lain, penjualan bitcoin justru berisiko menekan kepercayaan pasar terhadap aset yang menjadi fondasi bisnis perusahaan.

“Mereka punya masalah besar. Mereka tidak dapat memuaskan semua bagian dari struktur modal mereka,” kata Chief Investment Officer Arca, Jeff Dorman.

Senada, Kepala Riset Aset Digital Fundstrat, Sean Farrell, menilai Strategy tidak memiliki banyak pilihan.

“Mereka berada dalam kesulitan, dan mereka harus menjual sesuatu,” ujarnya.

Pihak Strategy menolak memberikan komentar atas laporan tersebut.

Akar persoalan berasal dari saham preferen yang diterbitkan perusahaan sebagai instrumen hibrida antara saham dan obligasi. Produk unggulannya, Stretch (STRC), menawarkan imbal hasil dividen sekitar 11,5%, sehingga total kewajiban dividen tahunan Strategy melonjak hampir empat kali lipat sejak awal 2026 menjadi sekitar US$1,2 miliar.

Kekhawatiran investor mulai meningkat setelah harga Bitcoin turun tajam dari puncaknya pada Oktober tahun lalu. Meski sempat menambah cadangan kas lebih dari US$1 miliar, sebagian besar dana tersebut kemudian digunakan untuk melunasi utang senilai US$1,5 miliar.

Pada akhir Mei, Saylor sempat menyatakan bahwa harga Bitcoin kemungkinan telah mencapai titik terendah di kisaran US$60.000. Namun, beberapa pekan kemudian harga Bitcoin kembali turun hingga sekitar US$58.000, lebih rendah dari harga rata-rata pembelian Bitcoin Strategy yang berada di kisaran US$75.000 per koin.

Berdasarkan data perusahaan, cada… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Minggu, 28 Juni 2026 15:00:00 WIB*