Dollar AS Menguat, Ini Daftar Emiten yang Diprediksi Paling Tertekan

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
JAKARTA, KOMPAS.com – Dollar Amerika Serikat (AS) yang terus perkasa membayangi prospek kinerja keuangan sejumlah emiten di bursa tanah air.

Kuatnya mata uang Paman Sam diyakini bisa meningkatkan biaya impor, membengkaknya beban utang valuta asing (valas), hingga menggerus keuntungan, terutama terhadap emiten yang mengandalkan pendapatan dalam kurs rupiah.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan emiten yang paling sensitif atau berpotensi terdampak negatif terhadap penguatan dollar AS adalah perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor, utang dollar AS, serta pendapatan yang masih didominasi rupiah.

Sektor farmasi menjadi yang paling rentan, misalnya PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Kondisi ini disebabkan lebih dari 90 persen bahan baku aktif atau active pharmaceutical ingredient (API) yang digunakan industri farmasi di Indonesia masih diimpor, sehingga kenaikan nilai tukar dollar AS langsung meningkatkan biaya produksi.

“Sensitif negatif (akibat perkasanya dollar AS) berupa biaya impor, utang dollar, pendapatan rupiah. Sektor farmasi, misalnya KLBF, KAEF,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Minggu malam (28/6/2026).

Baca juga: Mengapa Harga Minyak Dunia Tak Tembus 200 Dollar AS? Ini Penjelasan Analis

Sektor otomotif dan manufaktur juga ikut terdampak. Emiten yang masuk dalam kategori ini berupa PT Astra International Tbk (ASII), yang masih bergantung pada impor beberapa komponen. Meski, sebagian tekanan dapat diimbangi oleh kinerja bisnis alat berat melalui anak usaha, PT United Tractors Tbk (UNTR).

Kemudian, emiten yang bergerak di sektor tembakau, yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM), juga berpotensi tertekan. Pasalnya, bahan baku dari produknya masih diimpor.

“Otomotif dan manufaktur yaitu ASII (sensitif dari sisi komponen impor, meski terbantu lini bisnis alat berat/UNTR). Lalu, GGRM impor tembakau atau cengkih tertentu dan beban pita cukai,” paparnya.ANTARA FOTO/Hasrul Said Karyawan menghitung uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026). Bank Indonesia (BI) segera membatasi pembelian mata uang dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying) maksimal 25.000 dolar AS per orang per bulan yang akan berlaku pada Juni 2026 guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah

Selain sektor farmasi dan otomotif, sektor elektronik juga diproyeksikan terdampak karena tingginya penggunaan komponen … [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Senin, 29 Juni 2026 05:28:00 WIB*