Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah tren pelemahan rupiah beberapa waktu terakhir dinilai menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten eksportir.
Emiten seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), hingga PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih solid karena pendapatannya didominasi dolar AS, sedangkan beban operasionalnya banyak menggunakan rupiah.
Menilik kinerja keuangan hingga tiga bulan pertama tahun ini, mayoritas emiten berorientasi ekspor berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan pada kuartal I-2026. INKP, INCO, dan ADRO sama-sama membukukan kenaikan pendapatan yang diikuti peningkatan laba bersih secara tahunan. Sementara itu, ITMG mengalami kondisi berbeda. Meski pendapatannya masih tumbuh, laba bersih perusahaan justru tergerus.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Melanjutkan Pelemahan pada Awal Pekan, Senin (29/6)
Sejumlah analis memberikan rekomendasi saham emiten tersebut. Simak ulasan lengkap rekomendasi saham berikut ini.
Pada tahun buku 2026, INKP memasuki fase penting dalam siklus pertumbuhannya. Fasilitas produksi Karawang yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026 akan beralih dari tahap konstruksi menuju peningkatan produksi komersial (commercial ramp-up), sehingga menjadi pendorong utama lonjakan kinerja keuangan. Tahap pertama kompleks pabrik kertas industri Karawang akan menambah kapasitas produksi baru sebesar 2,4 juta metrik ton (MT) dalam satu tahap. Kapasitas tersebut hampir setara dengan seluruh kapasitas lama segmen kertas industri yang dimiliki INKP.
Pada kuartal I-2026, INKP mencatat pertumbuhan pendapatan 4,29% YoY menjadi US$ 816,29 juta dari pendapatan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar US$ 782,71 juta. Sejalan, INKP membukukan laba bersih pada kuartal I-2026 sebesar US$ 156,11 juta. Naik bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar US$ 140,12 juta.
Equity Research Analyst di KB Valbury Sekuritas, Adolf R.B. Setiadi
Dengan telah disetujuinya RKAB pada pertengahan Januari, perusahaan berada dalam posisi yang baik untuk mengoptimalkan kuota produksi bijih nikel sebesar 8,1 juta wmt yang telah diperoleh. Strategi manajemen yang mengalokasikan 5–6 juta wmt dari kuota tersebut untuk produksi bijih saprolit diyakini dapat mendiversifikasi sumber pendapatan sekaligus meningkatkan pr… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Minggu, 28 Juni 2026 13:57:19 WIB*