Hedge Fund China Peringatkan Risiko Pecahnya ‘Super Gelembung’ Saham AI

Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.

Isi berita asli:
27 Juni 2026 15:08 WIB·waktu baca 3 menit

Dua manajer hedge fund paling terkenal di China memperingatkan lonjakan saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di pasar global telah berkembang menjadi gelembung yang berpotensi pecah dalam jangka panjang.

Wealspring Asset, perusahaan yang didirikan oleh Yang Dong, investor yang dikenal di China karena berhasil memprediksi puncak pasar pada 2007, menyebut saham-saham AI global telah membentuk ‘super bubble’ atau gelembung super, dan memperingatkan bahwa’titik kehancurannya mungkin sudah tidak lama lagi’.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam surat kepada investor, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (27/6).

Sementara itu, Shanghai Banxia Investment Management Center menilai pemicu pecahnya gelembung AI sudah mulai terlihat.

Perusahaan itu mengacu pada tekanan terhadap laju pertumbuhan pendapatan Anthropic PBC yang selama ini berkembang sangat pesat.

Berdasarkan ringkasan pandangan sejumlah dana investasi yang disusun CSC Financial Co dan diperoleh Bloomberg, sedikitnya empat hedge fund China lainnya juga menyatakan sikap hati-hati terhadap sektor AI pada Mei lalu.

Dalam ringkasan tersebut, hanya empat hedge fund yang menyatakan pandangan positif terhadap AI, sementara tujuh lainnya tidak mengambil sikap.

Surat kepada investor tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana hedge fund terkemuka di China memandang teknologi yang tengah mengguncang pasar global.

Sepanjang tahun ini, saham-saham yang terkait AI melonjak tajam, dengan emiten seperti SK Hynix Inc dan Micron Technology Inc mencatat kenaikan nilai lebih dari tiga kali lipat. Namun, reli tersebut juga diwarnai koreksi tajam karena investor mulai bersikap lebih berhati-hati.

Wealspring, yang mengelola aset lebih dari USD 1,4 miliar, menilai banyak perusahaan infrastruktur AI di China tidak memiliki keunggulan kompetitif jangka panjang, menjalankan model bisnis yang ‘cukup biasa’, serta membutuhkan belanja modal yang terus-menerus agar mampu mempertahankan pertumbuhan.

“Kami benar-benar tidak menyangka bahwa ledakan permintaan semata bisa diangkat sedemikian rupa hingga menghasilkan valuasi dan kapitalisasi pasar setinggi ini. Pada pasar bullish 2015, ada istilah ‘membeli tanpa berpikir’. Dan saat ini, kemungkinan besar kita kembali berada dalam kondisi yang serupa,” tulis perusahaan tersebut kepada para investornya.

Wealspring juga memperkirakan sejumlah saham yang saat ini paling diminati di pasar domestik China sangat mung… [content truncated]

*Tanggal Source Berita: Sabtu, 27 Juni 2026 15:08:00 WIB*