Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Request timed out.
Isi berita asli:
JAKARTA, KOMPAS.com – Kondisi pasar saham yang masih bergejolak dinilai bukan menjadi alasan bagi perusahaan untuk menunda penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Kendati begitu, saat volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), emiten justru disarankan menetapkan harga saham secara realistis agar tetap menarik minat investor dan meningkatkan peluang penyerapan saham ketika perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Terdapat enam perusahaan dari berbagai sektor yang bakal melantai di pasar modal tanah air, baik sektor consumer non-cyclicals, consumer cyclicals, industri hingga kesehatan.
Keenam calon emiten tersebut terdiri dari PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Niramas Utama Tbk (JELI). Perusahaan-perusahaan ini mulai mencatatkan sahamnya pada awal Juli 2026.
Baca juga: 10 Saham Net Sell Investor Asing IHSG Sesi I, Kamis 25 Juni 2026
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan IHSG berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan IPO suatu perusahaan, terutama dari sisi sentiment jangka pendek dan likuiditas saat saham mulai diperdagangkan di bursa.
Volatilitas pasar berpotensi menurunkan minat investor untuk berpartisipasi dalam IPO. Pasalnya, investor khawatir harga saham akan langsung terkoreksi setelah resmi melantai di bursa.
“Biasanya kualitas IHSG itu memang memiliki pengaruh yang signifikan, terutama pada sentiment jangka pendek dan likuiditas saat melantai (IPO). Ini takutnya minat partisipasi itu, IPO bisa menyusut karena kekhawatiran harga saham langsung terkoreksi saat listing,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Kamis malam (25/6/2026).
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tidak selalu menjadi penghalang bagi investor institusi yang berorientasi jangka panjang.
Selama emiten memiliki fundamental yang kuat, prospek bisnis yang jelas, serta tingkat profitabilitas yang tinggi, saham perusahaan masih layak dipertimbangkan sebagai investasi.
Namun, investor institusi umumnya menginginkan valuasi IPO yang lebih menarik.
Mereka cenderung meminta discount valuasi yang lebih besar agar memiliki kepastian margin of safety (MOS) yang memadai sehingga risiko investasi dapat ditekan.
“Tapi yang jelas si investor institusi jangka panjang itu, tentu menghendaki discount. Discount valuasi yang lebih besar, supaya bisa m… [content truncated]
*Tanggal Source Berita: Jumat, 26 Juni 2026 09:01:00 WIB*