Gagal menulis ulang berita menggunakan AI: Error code: 400 – {‘error’: {‘message’: ‘litellm.BadRequestError: You passed in model=kimi-k2.6. There are no healthy deployments for this modelNo fallback model group found for original model_group=kimi-k2.6. Fallbacks=[]. Received Model Group=kimi-k2.6\nAvailable Model Group Fallbacks=None\nError doing the fallback: litellm.BadRequestError: You passed in model=kimi-k2.6. There are no healthy deployments for this modelNo fallback model group found for original model_group=kimi-k2.6. Fallbacks=[]’, ‘type’: None, ‘param’: None, ‘code’: ‘400’}}
Isi berita asli:
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja emiten produsen crude palm oil (CPO) akan mendapat tantangan baru di tahun 2026. Kekhawatiran tersebut lantaran pemerintah mengimbau kenaikan harga tandan buah segar (TBS) sawit.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan harga TBS Sawit akan kembali ke harga semula. Bahkan pihaknya menargetkan bisa naik 10% seiring dengan menguatnya mata uang dollar Amerika serikat (AS).
Amran menyebut saat ini masih ada 300 perusahaan dari 1.900 perusahaan di sektor kelapa sawit yang belum menaikkan harga TBS sawit petani.
Baca Juga: Menakar Kemampuan Investor Domestik Menggendong Kinerja IHSG
Untuk itu, Amran memastikan akan mengambil langkah hukum terhadap para pengusaha tersebut untuk memberikan sanksi jera.
“Yang 300 ini akan kita periksa. Kami akan cek kenapa dia tidak menaikkan seperti semula. Bahkan harusnya naik 10% daripada harga sebelumnya karena ada selisih nilai dolar sekarang 18.000,” terang Amran.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan harga TBS terjadi setelah pengumuman ekspor satu pintu via PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Hal tersebut merupakan anomali, karena CPO dunia tengah naik sekitar 47% YTD dan dolar AS naik 10%, tetapi TBS di dalam negeri justru turun.
Kenaikan TBS 10% dinilai akan menekan margin emiten yang membeli TBS dari petani plasma dan pihak ketiga. Sehingga, emiten dengan kebun inti besar seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) lebih terlindungi dan kenaikan harga justru mendorong average selling price (ASP).
“Secara industri ini masih positif untuk laba. Sebab, harga CPO naik 47% secara year on year (yoy) dan USD/IDR 10% lebih dari cukup menutup kenaikan biaya TBS,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari melihat, kenaikan harga TBS hingga 10% pada dasarnya akan meningkatkan biaya bahan baku emiten sawit. Khususnya, bagi perusahaan yang masih mengandalkan pembelian buah dari petani pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan pabriknya.
Dalam jangka pendek, hal ini berpotensi menekan margin laba karena cash cost produksi meningkat. Namun, dampaknya terhadap kinerja sektor secara keseluruhan masih relatif terbatas, karena harga CPO global saat ini tetap berada pada level yang tinggi di kisaran Rp 15 juta – Rp 16 juta per ton dan masih berpotensi menguat pada semeste… [content truncated]