Pipeline IPO BEI Menyusut, Sektor Konsumen dan Kesehatan Mendominasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah perusahaan yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) mengalami penurunan signifikan. Hingga 5 Juni 2026, hanya tersisa 12 perusahaan dalam pipeline, turun dari 15 perusahaan pada periode sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar modal yang masih selektif, meskipun minat emiten baru tetap terjaga di tengah kebutuhan pendanaan ekspansi.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa mayoritas calon emiten berasal dari kategori aset besar dengan nilai di atas Rp250 miliar, yakni sebanyak delapan perusahaan. Empat sisanya masuk kategori aset menengah (Rp50 miliar-Rp250 miliar). Dari segi sektor, perusahaan barang konsumen nonprimer dan sektor kesehatan menjadi yang paling dominan, masing-masing tiga perusahaan. Selain itu, terdapat dua perusahaan sektor barang konsumen primer, dua sektor infrastruktur, serta masing-masing satu perusahaan dari sektor keuangan, transportasi, dan teknologi.

Sepanjang tahun ini, BEI baru mencatat satu perusahaan yang berhasil melaksanakan IPO, sehingga total emiten tercatat di pasar modal Indonesia mencapai 957 perusahaan. Sementara itu, aktivitas penghimpunan dana melalui surat utang masih tinggi. Hingga awal Juni 2026, telah diterbitkan 53 emisi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dari 36 penerbit dengan total nilai Rp69,94 triliun. Saat ini, masih ada 63 emisi dari 40 penerbit yang mengantre, menandakan instrumen utang tetap menjadi alternatif pendanaan yang diminati.

Di sisi aksi korporasi rights issue, BEI mencatat empat perusahaan telah melaksanakan penambahan modal dengan total nilai Rp3,89 triliun. Masih terdapat satu perusahaan sektor properti yang mengantre untuk melakukan rights issue. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih menjadi pilar penting bagi pelaku usaha dalam mendanai ekspansi, meskipun volume IPO cenderung melambat.