Peluncuran fitur kecerdasan buatan (AI) terbaru Apple, yang dikenal luas sebagai Siri AI, menuai kekecewaan di kalangan investor setelah perusahaan mengonfirmasi adanya penundaan jadwal rilis serta pembatasan wilayah yang ketat. Langkah ini dianggap sebagai pukulan bagi ekspektasi pasar yang sebelumnya optimistis terhadap kemampuan Apple dalam memimpin inovasi AI konsumen. Meskipun saham Apple mencatat kenaikan moderat sebesar 3,25% dalam sebulan terakhir, tekanan jual dalam sepuluh hari terakhir menyebabkan penurunan 1,99%, mengindikasikan sentimen negatif yang mulai merembes.
Para analis masih mempertahankan pandangan positif dengan potensi kenaikan harga saham sebesar 7,15% dan target harga rata-rata di level $323,82 per lembar. Optimisme ini terutama didorong oleh portofolio produk inovatif Apple lainnya serta pertumbuhan segmen layanan yang solid. Namun, kabar mengenai Siri AI yang tertunda dan hanya tersedia di beberapa negara tertentu memicu kekhawatiran akan kompetitivitas Apple di ranah AI yang kini dikuasai oleh pesaing seperti Google dan Microsoft.
Dari sudut pandang fundamental, penundaan ini tidak serta merta menggerus prospek jangka panjang Apple, tetapi menyebabkan ketidakpastian jangka pendek yang signifikan. Investor institusional mulai menyesuaikan portofolio dengan mengurangi eksposur terhadap saham yang terlalu bergantung pada momentum AI. Sementara itu, ritel tetap terbelah antara keyakinan pada merek Apple dan realitas keterbatasan geografis yang membatasi adopsi global fitur AI terbaru.
Secara keseluruhan, respons pasar terhadap Siri AI menunjukkan bahwa investor semakin kritis terhadap janji-janji inovasi yang tidak diiringi dengan eksekusi yang matang. Apple perlu segera mengomunikasikan peta jalan yang jelas untuk merestorasi kepercayaan, terutama jika ingin mempertahankan momentum kenaikan harga saham menuju target analis. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan akan berlanjut seiring dengan evaluasi dampak penuh dari keterbatasan wilayah dan jadwal rilis yang bergeser.