Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan reli kuat pada perdagangan sesi I, Selasa (9/6/2026), dengan melesat 4,82% ke level 5.599,74, mendekati level psikologis 5.600. Aksi beli meluas ke saham-saham berkapitalisasi besar dan emiten sektor energi, dengan hampir seluruh sektor bergerak di zona hijau. Sebanyak 603 saham menguat, jauh melampaui 118 saham yang terkoreksi dan 92 saham yang stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp13,79 triliun dengan volume perdagangan 24,71 miliar saham. Sektor industri menjadi motor penguatan utama, naik 5,93%, disusul sektor bahan baku (5,71%) dan energi (5,08%). Di jajaran saham unggulan, TLKM melesat 8,94%, TPIA naik 8,41%, BBNI 8,31%, BBRI 6,56%, BMRI 6,47%, dan AMMN menguat 6,35%.
Di tengah euforia pasar, PT Elnusa Tbk (ELSA) menarik perhatian dengan potensi pendapatan pasif melalui dividen. Perseroan memutuskan membagikan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp44,29 per saham, setara dengan 45% dari laba bersih sebagai dividend payout ratio. Dengan asumsi harga saham pada pembukaan perdagangan di Rp550 per saham, kebijakan ini menghasilkan indikasi dividend yield sekitar 8,1%. Yield di atas 8% ini tergolong menarik di tengah kondisi pasar yang pulih, bahkan melampaui rata-rata imbal hasil deposito dan sebagian besar emiten berkapitalisasi menengah di bursa.
Sentimen dividen langsung tercermin pada pergerakan saham ELSA. Hingga sesi pertama, saham perusahaan jasa energi ini ditutup di Rp570, naik 15 poin atau 2,70% dari perdagangan sebelumnya. Saham sempat menyentuh level tertinggi Rp575 sebelum ditutup di Rp570, dengan level terendah Rp540 dan harga pembukaan Rp555. Aktivitas perdagangan ELSA cukup aktif dengan volume mencapai 159,81 juta saham, nilai transaksi Rp8,94 miliar, dan frekuensi 2.900 kali. Momentum ini membuat ELSA berada dalam posisi strategis: di satu sisi ikut menikmati sentimen positif dari reli IHSG yang didorong sektor energi, di sisi lain menawarkan imbal hasil dividen yang relatif tinggi bagi investor yang mencari pendapatan pasif.