Goldman Sachs: Koreksi Wall Street Bukan Sinyal Bahaya, Justru Peluang Beli

Wall Street baru saja mengalami tekanan signifikan pada awal Juni 2026, dengan indeks S&P 500 merosot 2,64%, Nasdaq anjlok 4,18%, dan Dow Jones turun 1,35%. Aksi jual ini menghapus sekitar US$1,8 triliun nilai pasar dari S&P 500, menjadikannya salah satu penurunan harian terbesar dalam sejarah Nasdaq. Namun, Goldman Sachs menilai koreksi ini belum mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

John Flood, kepala divisi perdagangan saham Goldman Sachs, menegaskan bahwa meskipun pasar terlihat mahal, posisi investor secara keseluruhan belum menunjukkan perilaku berlebihan atau spekulatif. Menurut Flood, koreksi ini lebih merupakan peluang beli daripada awal penurunan lebih dalam. Ia menilai pasar saham masih dalam kondisi sangat sehat, didukung oleh permintaan yang kuat terhadap penerbitan saham baru, terutama dari investor institusional.

Penurunan pasar didorong oleh beberapa faktor, antara lain aksi jual besar-besaran pada saham semikonduktor, laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan sehingga memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga, serta kekhawatiran terkait belanja kecerdasan buatan. Namun, Flood optimistis bahwa kondisi ini tidak menunjukkan kerentanan serius, mengingat S&P 500 telah mencatat 24 rekor penutupan tertinggi sepanjang masa pada 2026 meskipun dibayangi isu inflasi, konflik Iran, dan suku bunga tinggi.

Divisi perdagangan saham Goldman Sachs tetap mempertahankan target ambisius, memperkirakan S&P 500 dapat mencapai level 8.000 atau lebih tinggi pada tahun ini. Pandangan ini sejalan dengan tim analis Citibank yang menaikkan target akhir tahun 2026 untuk S&P 500 menjadi 8.100. Flood menilai fluktuasi pasar saat ini lebih bersifat temporer dan bukan merupakan sinyal bahaya struktural.

Keyakinan Goldman Sachs didukung oleh data penerbitan saham yang kuat. Menurut data SIFMA, penerbitan saham di AS mencapai US$122,4 miliar hingga Mei 2026, naik 34,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai penerbitan saham perdana (IPO) melonjak 172,8% menjadi US$34,2 miliar. Angka ini menunjukkan minat investor yang masih tinggi terhadap pasar ekuitas, memperkuat argumen bahwa koreksi saat ini tidak mengindikasikan perubahan tren jangka panjang.