Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mengalami tekanan jual yang signifikan, bahkan menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) pada penutupan perdagangan. Harga saham TLKM ditutup di level Rp2.350, anjlok 14,86% dari posisi sebelumnya Rp2.760. Penurunan ini terjadi di tengah pengumuman pembagian dividen tunai senilai Rp21,9 triliun yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).
Dividen tersebut terdiri dari Rp17,8 triliun yang berasal dari laba bersih tahun 2025 dan Rp4,2 triliun dari laba ditahan tahun sebelumnya. Selain dividen, RUPST juga menyetujui program buyback saham maksimal Rp4 triliun yang akan dilakukan dalam 12 bulan ke depan. Namun, sentimen pasar justru negatif akibat kinerja keuangan yang melemah. Analis BRI Danareksa Sekuritas mencatat laba TLKM pada kuartal I-2026 turun 22% year-on-year menjadi Rp4,34 triliun, memicu kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan.
Tekanan tambahan datang dari aksi jual investor asing yang mencatat net sell Rp314 miliar dalam sebulan terakhir, menandakan distribusi masih berlanjut. Dugaan kasus pengadaan di internal Telkom juga meningkatkan risiko reputasi, membuat investor semakin hati-hati menjelang RUPST. Secara teknikal, TLKM telah breakdown support di level 2.800 yang membentuk pola Head & Shoulders, mengindikasikan perubahan arah tren.
Analis memproyeksikan potensi penurunan lebih lanjut menuju support 2.300 hingga 2.050. Meski dividen besar dan buyback diumumkan, pasar masih wait and see terhadap agenda penggunaan laba dan perubahan pengurus. Fokus investor beralih pada prospek jangka pendek TLKM yang masih dibayangi tekanan fundamental dan sentimen negatif.
Kombinasi antara penurunan laba, aksi jual asing, dan isu hukum membuat optimisme terhadap dividen jumbo meredup. Pasar menanti langkah konkret manajemen untuk memperbaiki kinerja dan memulihkan kepercayaan investor dalam beberapa bulan ke depan.