EinsNews, JAKARTA — PT Elnusa Tbk (ELSA) memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp323 miliar atau setara Rp44,29 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025. Nilai tersebut meningkat 13% dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan kinerja solid yang dicatatkan perusahaan jasa energi terintegrasi tersebut. Sepanjang tahun buku 2025, Elnusa membukukan laba bersih Rp718 miliar dengan pendapatan usaha Rp14,5 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas hulu migas, distribusi logistik energi, serta inovasi teknologi.
Menariknya, di tengah kenaikan dividen, manajemen tetap menjaga keseimbangan dengan mengalokasikan 55% laba bersih atau Rp395 miliar sebagai laba ditahan. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, mendukung ekspansi usaha, serta mempercepat pengembangan teknologi dan kapasitas operasional. Langkah ini menunjukkan strategi Elnusa dalam memberikan imbal hasil kepada investor tanpa mengorbankan investasi jangka panjang.
Elnusa terus memperkuat daya saing melalui modernisasi peralatan, digitalisasi proses bisnis, dan pengembangan teknologi energi. Sejumlah inovasi seperti In-Line Inspection (ILI), Hydraulic Fracturing, Pertasolven, hingga pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) menjadi fokus utama untuk meningkatkan efisiensi operasional. Selain itu, perusahaan juga memperluas pijakan di pasar internasional dengan sukses menjalankan proyek survei seismik maritim di Thailand dan mengembangkan pasar di kawasan Afrika Utara.
Corporate Secretary Elnusa, Rustam Aji, menegaskan bahwa peningkatan dividen tahun ini mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap fundamental bisnis yang semakin kuat. “Kebijakan dividen ini menunjukkan kemampuan Elnusa dalam menghasilkan kinerja yang sehat sekaligus menjaga ruang pertumbuhan. Dengan fundamental yang kuat, portofolio bisnis yang terdiversifikasi, dan ekspansi ke pasar global, kami optimistis dapat terus menciptakan nilai bagi pemegang saham,” ujarnya. Langkah ini dinilai positif oleh analis, mengingat sektor energi masih memiliki prospek cerah seiring pemulihan harga minyak dan permintaan jasa migas global.