EinsNews, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penurunan jumlah calon emiten yang mengantre untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO). Jika sebelumnya terdapat 15 perusahaan dalam pipeline, kini jumlah tersebut menciut menjadi hanya 12 emiten potensial. Fenomena ini mengindikasikan adanya dinamika regulasi dan kesiapan dokumen yang menjadi hambatan bagi perusahaan untuk segera tercatat di bursa.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa penyusutan antrean tersebut disebabkan oleh tiga faktor utama: perusahaan masih merevisi laporan keuangan menggunakan data terkini, ketidaklengkapan dokumen persyaratan, serta belum diperolehnya persetujuan dari otoritas terkait. Kondisi ini mencerminkan proses due diligence yang semakin ketat, namun juga berpotensi menunda rencana ekspansi perusahaan melalui aksi korporasi.
Dari segi skala aset, sebanyak empat calon emiten tergolong perusahaan skala menengah dengan total aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, sementara delapan lainnya merupakan perusahaan besar dengan aset di atas Rp250 miliar. Berdasarkan sektor usahanya, komposisi pipeline paling banyak berasal dari sektor konsumer siklikal (3 perusahaan), diikuti sektor kesehatan (3), konsumer non-siklikal (2), infrastruktur (2), serta masing-masing satu perusahaan dari sektor keuangan dan teknologi. Diversifikasi sektor ini menunjukkan minat IPO masih merata, meskipun jumlahnya berkurang.
Penurunan antrean IPO ini dapat berdampak pada likuiditas pasar modal jangka pendek, karena berkurangnya pasokan saham baru. Namun, di sisi lain, selektivitas BEI justru dapat menjaga kualitas emiten dan kepercayaan investor. Hingga awal Juni 2026, BEI mencatat satu perusahaan telah resmi melantai dengan dana terkumpul Rp0,30 triliun. Selain itu, bursa juga mencatat perkembangan di instrumen lain: terdapat 63 emisi EBUS dari 40 penerbit dengan dana terkumpul Rp69,94 triliun, serta empat rights issue senilai Rp3,89 triliun yang telah diterbitkan. Satu perusahaan dari sektor properti dan real estate masih mengantre rights issue, menandakan bahwa aksi korporasi lain tetap bergairah meski jalur IPO sedang melambat.