Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) tetap berjalan sesuai target jadwal, dilansir dari Bloomberg Technoz pada Kamis (4/6/2026). Langkah ini diambil oleh otoritas bursa di tengah situasi pasar saham domestik yang sedang mengalami tekanan sejak awal tahun.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengonfirmasi ada 15 perusahaan dalam antrean pencatatan saham saat ini. BEI terus memantau perkembangan proses tersebut setiap hari dan mendorong percepatan dokumen dari calon emiten.
“Masih on schedule, kita ada 15, proses tentunya berjalan, kita monitor setiap hari progresnya,” kata Nyoman, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.
Sebagian besar perusahaan dalam antrean masih memakai laporan keuangan audit per Desember 2025. Batas waktu penggunaan laporan tersebut adalah bulan Juni, sehingga otoritas bursa meminta para calon emiten segera memberikan tanggapan kepada regulator.
“Itu harapan kita untuk speed up prosesnya. So far masih on track,” ujar Nyoman, Direktur Penilaian Perusahaan BEI.
Selain mempercepat proses administrasi emiten baru, BEI berupaya menjaga stabilitas pasar akibat volatilitas yang tinggi. Komunikasi intensif mulai dijalin dengan sejumlah investor institusi domestik maupun global untuk memulihkan kepercayaan pasar.
“Ya kami berkomunikasi terus dengan seluruh investor, baik investor institusi domestik dan bahkan investor global,” kata Jeffrey, Pejabat Sementara (PJS) Direktur Utama BEI.
Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa komunikasi telah dilakukan dengan beberapa investor institusi besar guna meningkatkan partisipasi domestik. Upaya interaksi tersebut salah satunya menyasar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
Tekanan pada pasar modal terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang lesu di awal Juni 2026. Akumulasi penurunan IHSG tercatat mencapai 6,4% ke posisi 5.724 yang berjalan beriringan dengan penyusutan surplus neraca perdagangan April 2026 menjadi US$89,1 juta.
Kondisi pasar yang tidak menentu ini juga sempat mendapat perhatian dari pemerintah pada kuartal sebelumnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyoroti minimnya aktivitas emiten baru yang melantai di bursa pada awal tahun ini.
“Mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehinga ini masih dalam pipeline,” kata Airlangga, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Berdasarkan data internal pasar modal, BEI ba… [content truncated]