Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melanjutkan tren pelemahan dan kini bergerak di kisaran level 5.000. Kondisi ini menjadi salah satu ujian terberat bagi pasar modal domestik dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan investor ritel maupun institusi.
Tekanan jual yang berkepanjangan dipicu oleh dua faktor utama: pertama, isu terkait keputusan MSCI yang dijadwalkan pada Januari 2026, yang memicu arus keluar modal asing. Kedua, eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat pada Maret 2026 lalu yang mengguncang pasar global, termasuk Indonesia.
Di tengah darah merah yang mengalir di papan bursa, investor mulai mempertanyakan relevansi strategi investasi berbasis dividen. Meskipun harga saham anjlok, yield dividen beberapa emiten justru terlihat menggiurkan. Namun, risiko penurunan harga lebih lanjut tetap menjadi momok yang harus diperhitungkan.
Analis menyarankan investor untuk selektif dalam memilih saham dividen, terutama yang memiliki fundamental kuat dan rasio pembayaran dividen yang berkelanjutan. Sektor perbankan dan konsumer masih dinilai relatif tahan banting, namun volatilitas jangka pendek diperkirakan masih tinggi seiring ketidakpastian global yang belum mereda.