EinsNews, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang sangat dalam pada perdagangan sesi pertama, Kamis (4/6/2026). Indeks ambles hingga 206,8 poin atau 3,48% ke level 5.734,25, sempat menyentuh level terendah sepanjang tahun ini sekaligus level terendah sejak November 2020. Pergerakan IHSG berada di rentang 5.644 hingga 5.924, menunjukkan volatilitas ekstrem di tengah sentimen negatif yang melanda pasar global.
Meski indeks utama terperosok, enam saham justru mencatatkan kenaikan harga yang signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers. Saham ESTI memimpin daftar tersebut dengan kenaikan terbesar. Total volume perdagangan tercatat mencapai 22,84 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp12,73 triliun dan frekuensi sebanyak 1.384.192 transaksi. Data menunjukkan sebanyak 63 saham berhasil menguat, sementara 683 saham melemah dan 62 saham stagnan.
Saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 juga tidak luput dari aksi jual, dengan indeks ambruk 3,21%. Seluruh sektor saham kompak rontok, di mana sektor barang baku menjadi yang terparah dengan kenaikan 5,87%, disusul properti minus 5,31%, perindustrian minus 4,55%, transportasi minus 4,44%, serta infrastruktur minus 4,31%. Pelemahan ini mencerminkan kepanikan investor yang keluar dari hampir semua lini pasar.
Kondisi serupa juga terjadi di bursa Asia. Indeks Straits Times Singapura turun 1,32%, Nikkei Jepang ambrol 1,54%, Shanghai China melemah 0,46%, dan Hang Seng Hong Kong anjlok 1,29%. Tekanan jual global ini memperkuat sentimen negatif yang mendorong IHSG ke titik terendahnya dalam enam tahun terakhir, memberikan sinyal waspada bagi pelaku pasar untuk mencermati pergerakan selanjutnya.