Eskalasi Geopolitik dan Data Persediaan Minyak Picu Pelemahan Pasar Saham Global

Pasar saham global mengalami tekanan pada perdagangan Rabu, dengan mayoritas indeks utama mencatat penurunan. Para pelaku pasar melakukan koreksi minor setelah reli signifikan sebelumnya, sementara ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama pergerakan harga aset berisiko. Kondisi ini mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap saham dan beralih ke aset safe haven, meskipun harga logam mulia justru tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 2%, menembus level US$95 per barel, sementara harga gas alam (NATGAS) juga mencatat kenaikan serupa mendekati US$5,0. Lonjakan harga energi ini tidak hanya dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah—termasuk serangan Iran ke bandara Kuwait dan pelanggaran wilayah udara Bahrain sebagai respons atas insiden penembakan kapal tanker oleh AS—tetapi juga diperkuat oleh data mingguan Departemen Energi AS yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 8 juta barel, jauh melebihi ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penurunan 3 juta barel. Probabilitas tercapainya kesepakatan pembukaan permanen Selat Hormuz pada akhir Juni kini hanya sekitar 20%, semakin memperburuk sentimen pasokan.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami kenaikan di berbagai negara: AS (+1,1%), Jerman (+2%), Jepang (+2,3%), dan lainnya. Tekanan ini mendorong penurunan harga emas (-1%) dan perak (-2%), karena investor mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap yang lebih menarik. Kenaikan yield juga menjadi faktor utama pelemahan sektor saham, terutama saham teknologi dan siklikal di bursa Amerika Serikat.

Indeks S&P 500 turun 0,6%, sementara NASDAQ Composite melemah 1%. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti Nvidia (-3%), Microsoft (-3,8%), Amazon (-3,1%), dan Palantir (-6,1%) menjadi pemberat utama. Di Eropa, indeks DAX Jerman terkoreksi 1,3% dengan tekanan pada SAP (-4,3%), Deutsche Bank (-3,7%), Mercedes-Benz (-3,3%), Adidas (-3,2%), dan Deutsche Telekom (-2,7%). Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik.

Meski demikian, tidak semua saham mengalami nasib buruk. Saham Marvell Technology mencatat lonjakan lebih dari 35% sejak pembukaan perdagangan Selasa, termasuk kenaikan 5,3% pada hari Rabu. Keunggulan ini didorong oleh komentar positif dari CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam sebuah acara industri yang menyoroti potensi pertumbuhan sektor semikonduktor. Pergerakan ini menunjukkan bahwa sentimen pasar masih terfragmentasi, dengan peluang tetap ada di sektor-sektor spesifik meskipun tekanan makro dan geopolitik mendominasi.