Sejumlah perusahaan publik terbesar di Indonesia tersingkir dari indeks saham global utama seperti MSCI dan FTSE Russell akibat permasalahan daya investasi dan penyesuaian teknis administratif pada Juni 2026.
Dilepasnya emiten-emiten berkapitalisasi besar ini memicu kekhawatiran penurunan daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor global, yang turut berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Kamis (4/6).
Penghapusan ini juga dibarengi dengan langkah Bursa Efek Indonesia yang memindahkan posisi klasifikasi sejumlah saham ke Papan Pengembangan karena tidak memenuhi kriteria pertumbuhan pendapatan.
Partner Wealth Management SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai penghapusan emiten Indonesia dari indeks global lebih mencerminkan persoalan daya investasi dibandingkan kurangnya pertumbuhan korporasi.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada pemenuhan tingkat free float, likuiditas, transparansi, dan aksesibilitas yang memadai bagi investor institusi.
Pada Mei lalu, MSCI menghapus enam perusahaan Indonesia termasuk Barito Renewables Energy dan Dian Swastatika Sentosa, sementara FTSE Russell mengeluarkan GoTo dari indeks acuan dalam tinjauan Juni 2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa keluarnya saham dari indeks FTSE Global Equity Index Series Mid Cap Index berpotensi memicu tekanan jual dari investor institusi asing.
“Jadi otomatis dampaknya seperti ini misalnya karena kalau kita melihat secara teknikal masih terjadi tekanan jual. Sementara kalau GOTO kan sudah mendekati level Rp 50 (harga saham),” ujar Nafan Aji Gusta.
Nafan menambahkan bahwa penurunan harga saham ini membuat valuasi emiten menjadi lebih murah, namun dampak tersebut lebih banyak memengaruhi sentimen jangka pendek ketimbang kondisi fundamental perusahaan.
“Sebenarnya itu sudah cukup undervalued, Tapi paling tidak memang tekanan jual sudah terjadi sebelumnya, jadi sudah ter-pricing. Itu standar bahwasanya passive fund untuk melakukan aksi jual,” papar Nafan Aji Gusta.
Meskipun volatilitas harga berpotensi meningkat terutama bagi saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang berada di atas Rp50, peluang emiten untuk kembali masuk ke indeks FTSE tetap terbuka.
“Untuk yang NCKL harganya masih jauh di atas level Rp 50, jadi otomatis saya pikir NCKL itu lebih volatil efeknya. NCKL itu lebih volatil karena wajar saja outflow dana asing itu memicu volatilitas daripada NCKL,” kata Nafan… [content truncated]