BEI Jamin Fundamental Pasar Tetap Kokoh di Tengah Tekanan IHSG, Laba Emiten LQ45 Tembus 30%

Di tengah tekanan jual yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta investor untuk tidak panik dan tetap mencermati kinerja fundamental perusahaan tercatat. Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa kondisi fundamental pasar domestik masih dalam keadaan baik, terutama didukung oleh lonjakan laba bersih emiten saham unggulan dalam kelompok LQ45.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, laba bersih emiten LQ45 tercatat melesat 29,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi salah satu indikator bahwa korporasi besar masih mampu menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar. Lebih menggembirakan lagi, sebanyak 80% dari seluruh perusahaan tercatat berhasil membukukan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini — sebuah rekor tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 hanya 63% emiten yang mampu mencetak keuntungan, sementara rata-rata periode 2021 hingga 2025 hanya berkisar 73-76%. Jeffrey menambahkan bahwa secara agregat, pertumbuhan laba seluruh emiten pada akhir tahun 2025 mencapai lebih dari 21%. Data ini menunjukkan bahwa daya tahan sektor korporasi Indonesia relatif solid meskipun IHSG terkoreksi tajam year-to-date.

Namun demikian, optimisme fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin di pasar. Pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, IHSG ditutup melemah 1,7% ke level 5.839, sehingga total penurunan indeks sejak awal tahun mencapai 32%. Hal ini mengindikasikan bahwa sentimen jangka pendek masih didominasi oleh faktor eksternal dan aksi ambil untung, bukan oleh buruknya kinerja perusahaan.

Menurut analis, investor disarankan untuk tidak hanya terpaku pada fluktuasi harga harian, melainkan menjadikan laporan keuangan sebagai landasan keputusan investasi jangka menengah hingga panjang. BEI pun mengimbau agar pelaku pasar lebih selektif dan percaya pada fundamental yang kuat, terutama di tengah potensi pemulihan ekonomi global yang mulai terlihat. Dengan laba emiten yang terus tumbuh, valuasi pasar saat ini dinilai semakin menarik bagi investor yang berorientasi nilai.