Pasar saham domestik tengah berada dalam tekanan signifikan pada awal Juni 2026, namun momentum pembagian dividen tunai masih menjadi ceruk pendapatan bagi investor. Sebanyak 12 emiten menetapkan Kamis, 4 Juni 2026, sebagai batas akhir periode cum dividen—hari terakhir di mana saham masih mengandung hak untuk memperoleh dividen. Investor yang ingin mengantongi dividen wajib membeli saham tersebut paling lambat pada tanggal tersebut dan menyimpannya hingga tanggal pencatatan resmi.
Emiten yang melaksanakan cum dividen ini bergerak di beragam sektor strategis, mulai dari perkebunan sawit, komoditas batu bara, hingga gas bumi. Dua di antaranya yang menarik perhatian adalah PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) yang mengumumkan dividen Rp80 per saham atau Rp8.000 per lot, serta PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS) yang membagikan dividen Rp125,6 per saham. Alokasi dividen PGAS mencapai sekitar 80% dari laba bersih tahun buku 2025, menjadikannya salah satu emiten dengan komitmen distribusi laba tinggi.
Dari sisi atraktivitas, estimated dividend yield PGAS berada di kisaran 7,05% berdasarkan harga penutupan Rp1.780 per saham pada 3 Juni 2026. Angka ini melampaui rata-rata yield pasar yang biasanya berkisar 3%-5%. Tingginya yield tersebut menjadikan saham-saham dengan dividen besar sebagai pilihan menarik di tengah volatilitas pasar, meskipun analis mengingatkan bahwa harga saham cenderung turun saat ex-date setidaknya sebesar nilai dividen teoritisnya.
Pengamat pasar modal mengimbau investor agar tidak terjebak membeli saham hanya karena faktor kedekatan tanggal cum date—jebakan dividen yang kerap merugikan. Pelaku pasar disarankan memprioritaskan saham berfundamental kokoh, likuiditas perdagangan baik, serta rekam jejak distribusi laba yang konsisten. Strategi jangka pendek pun perlu diimbangi dengan analisis teknikal untuk mengantisipasi potensi tekanan jual pasca ex-date.
Sentimen positif dari musim pembagian dividen memang dapat mengalir ke pasar, namun arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dominan dipengaruhi oleh pergerakan rupiah, rebalancing indeks MSCI dan FTSE, serta arus dana asing. Oleh karena itu, investor disarankan tetap waspada dan tidak hanya mengandalkan momentum dividen semata dalam pengambilan keputusan investasi.