Tekanan pada pasar keuangan Indonesia masih berlanjut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh ke level 5.941 pada perdagangan Selasa (3/5/2026), terkoreksi 4,11%, sementara nilai tukar rupiah melemah ke Rp 17.967 per dolar AS.
Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan ini lebih disebabkan oleh kenaikan risk premium Indonesia ketimbang pelemahan fundamental emiten. Earnings yield spread IHSG terhadap obligasi pemerintah mencapai 242 basis poin, jauh di atas rata-rata historis, menunjukkan investor menuntut kompensasi risiko yang lebih tinggi. Meski demikian, konsensus pasar masih memperkirakan pertumbuhan laba 2026 sebesar 14%, dan proyeksi BRI Danareksa di level 13,4%.
Fokus pasar saat ini tertuju pada hasil evaluasi MSCI dan outlook dari S&P. Perubahan outlook S&P kemungkinan sudah terefleksi di harga, namun keputusan MSCI masih menjadi perhatian utama. Risiko penurunan peringkat kredit tidak serta merta berarti downgrade ke non-investment grade, tetapi tetap membebani sentimen.
Koreksi harga membuat valuasi saham menjadi lebih murah jika dilihat dari rasio PER dan PBV. Namun, Investment Advisor Phintraco Sekuritas mengingatkan bahwa valuasi historis saja tidak cukup; investor perlu mempertimbangkan risiko negara dan kondisi makroekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu, meskipun ada peluang bargain hunting, kehati-hatian masih menjadi kata kunci.