Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, dikabarkan tengah mempersiapkan langkah revolusioner di pasar modal global dengan target valuasi mencapai USD 1,75 triliun atau setara Rp31.000 triliun. Angka ini mencengangkan karena hampir 10 kali lipat dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tahun 2025 yang sebesar Rp2.756,3 triliun. Rencana initial public offering (IPO) ini diperkirakan menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar saham global, mengalahkan berbagai catatan rekor sebelumnya.
Struktur IPO SpaceX dirancang dengan skema all-primary offering, di mana seluruh saham yang dilepas ke publik merupakan saham baru. Dengan demikian, dana segar yang terkumpul akan sepenuhnya mengalir ke kas internal perusahaan untuk mendanai ekspansi besar-besaran. Manajemen SpaceX menargetkan penggalangan dana minimal USD 75 miliar dari penawaran perdana ini, dengan opsi greenshoe sebesar 15% yang memungkinkan penjamin emisi menambah saham jika permintaan pasar melampaui ekspektasi. Investor lama, termasuk para pemegang saham internal, tidak diperkenankan menjual kepemilikan mereka selama proses go public, dan harus menunggu masa lockup bertahap hingga laporan keuangan kuartalan pertama setelah IPO dirilis.
Keputusan SpaceX untuk menggunakan struktur all-primary offering menandai langkah strategis yang jarang dilakukan dalam IPO berukuran raksasa. Langkah serupa pernah diambil oleh produsen mobil listrik Rivian Automotive pada tahun 2021, di mana investor awal seperti Amazon dan Ford memilih untuk tidak menjual saham mereka agar perusahaan dapat menyerap modal baru secara penuh. Selain itu, SpaceX direncanakan langsung masuk ke dalam indeks Nasdaq 100, sebuah langkah yang tidak lazim bagi perusahaan yang baru melantai di bursa. Aturan struktural khusus juga akan memberikan kendali mutlak kepada Elon Musk atas dewan direksi serta mengukuhkan posisinya sebagai CEO dan Ketua Perusahaan.
Dampak dari IPO ini diprediksi akan signifikan terhadap pasar modal global, terutama sektor teknologi dan antariksa. Valuasi setinggi itu mencerminkan optimisme investor terhadap masa depan bisnis antariksa komersial yang dipelopori SpaceX. Namun, analis pasar mengingatkan bahwa ukuran IPO yang sangat besar dapat menimbulkan volatilitas tinggi pada harga saham di awal perdagangan. Dengan pengalaman Musk dalam mengelola perusahaan publik seperti Tesla, pasar akan mencermati eksekusi strategi pasca-IPO, terutama dalam hal alokasi dana untuk proyek ambisius seperti Starship dan Starlink.
Secara keseluruhan, IPO SpaceX tidak hanya menjadi tonggak sejarah bagi perusahaan, tetapi juga ujian bagi pasar modal global dalam menyerap emisi saham raksasa. Jika berhasil, langkah ini akan membuka jalan bagi perusahaan teknologi berat lainnya untuk mengikuti jejak serupa. Namun, investor perlu waspada terhadap risiko yang melekat, termasuk ketergantungan pada figur sentral Elon Musk dan karakteristik unik dari sektor antariksa yang masih dalam tahap perkembangan.