Saham AMRT Anjlok 31%, Morgan Stanley Borong Rp206 Miliar di Tengah Tekanan

Harga saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola jaringan ritel Alfamart, masih berada dalam tren penurunan tajam hingga awal Juni 2026. Terhitung sejak awal tahun, saham emiten ritel ini telah kehilangan 31,99% nilainya, atau turun 635 poin, ditutup pada level Rp1.350 per saham pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen negatif yang membayangi sektor ritel, namun justru dimanfaatkan oleh investor asing kelas kakap untuk menambah porsi kepemilikan.

Morgan Stanley and Co International Plc, raksasa perbankan investasi asal Amerika Serikat, tercatat melakukan aksi borong saham AMRT dalam jumlah signifikan. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan pada 3 Juni 2026, Morgan Stanley membeli sebanyak 179.137.756 saham AMRT pada harga pelaksanaan Rp1.151 per saham pada 29 Mei 2026. Nilai transaksi pembelian ini mencapai sekitar Rp206 miliar. Meski demikian, pada hari yang sama, Morgan Stanley juga melepas 1.293.000 saham AMRT dengan harga Rp1.346 per saham, senilai sekitar Rp1,74 miliar, yang kemungkinan merupakan bagian dari strategi manajemen portofolio.

Setelah transaksi tersebut, total kepemilikan Morgan Stanley di AMRT meningkat menjadi 3.827.302.196 saham, dari sebelumnya 3.649.457.440 saham. Manajemen AMRT menyatakan bahwa tujuan transaksi ini adalah untuk investasi dengan status kepemilikan langsung. Langkah ini mengindikasikan bahwa meskipun harga saham sedang tertekan, Morgan Stanley masih melihat prospek jangka panjang yang kuat pada AMRT sebagai salah satu pemain dominan di sektor ritel modern Indonesia melalui jaringan Alfamart.

Dari sisi fundamental, AMRT mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid pada kuartal I-2026. Penjualan bersih perseroan mencapai Rp35,24 triliun, meningkat 7,53% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp32,77 triliun. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik 10,29% secara tahunan menjadi Rp1,07 triliun. Kinerja positif ini didorong oleh ekspansi jaringan dan peningkatan efisiensi operasional, yang menjadi alasan utama investor global seperti Morgan Stanley tetap percaya diri menambah eksposur di tengah volatilitas pasar saham domestik.

Dengan valuasi yang kini lebih murah setelah penurunan signifikan, aksi borong Morgan Stanley dapat menjadi katalis positif bagi sentimen pasar ke depan. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko makroekonomi dan persaingan di sektor ritel yang semakin ketat. Langkah Morgan Stanley menunjukkan bahwa investor institusi asing masih memandang AMRT sebagai aset strategis dengan potensi pemulihan harga yang menarik dalam jangka menengah hingga panjang.