Selama ini, banyak investor ritel hanya mengandalkan dividend yield saat menyaring saham AS. Padahal, pendekatan tersebut berpotensi melewatkan sejumlah perusahaan berkualitas tinggi yang memilih program buyback saham alih-alih membagikan dividen tunai. Fenomena ini semakin lazim sejak akhir 1990-an, ketika nilai buyback di pasar AS secara konsisten melampaui total dividen yang dibayarkan setiap tahunnya. Akibatnya, dividend yield saja tidak lagi mencerminkan secara utuh total kas yang dikembalikan perusahaan kepada pemegang saham.
Total Shareholder Yield (TSY) hadir sebagai solusi atas keterbatasan tersebut. Metrik ini menggabungkan tiga jalur pengembalian kas dalam satu angka: Dividend Yield, Buyback Yield, dan Debt Paydown Yield. Rumusnya sederhana: jumlah dari ketiga rasio tersebut. Dividend Yield dihitung dari total dividen tunai per saham selama 12 bulan terakhir dibagi harga saham saat ini. Buyback Yield diperoleh dari penurunan jumlah saham beredar netto, yaitu selisih saham beredar 12 bulan lalu dengan saham beredar sekarang, dibagi saham beredar 12 bulan lalu. Sementara Debt Paydown Yield adalah pengurangan utang bersih selama 12 bulan dibagi kapitalisasi pasar, meskipun beberapa praktisi mengabaikan komponen ini karena data yang lebih berisik.
Pentingnya TSY didukung oleh riset Morningstar yang menunjukkan bahwa 97 persen realized return saham berkaitan dengan total payout, bukan hanya dividen. Dengan kata lain, TSY memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif tentang komitmen manajemen terhadap pemegang saham. Perusahaan dengan dividend yield kecil, seperti Apple (AAPL), tetap bisa memiliki TSY tinggi berkat program buyback yang agresif. Apple, misalnya, memiliki dividend yield sekitar 0,5 persen, namun net buyback yield diperkirakan mencapai 3 persen, sehingga TSY-nya sekitar 3,5 persen.
Dalam praktiknya, investor dapat menggunakan data dari laporan tahunan 10-K dan laporan triwulan 10-Q yang dirilis ke SEC, atau menggunakan screener berbayar seperti GuruFocus untuk mempercepat perhitungan. Dengan mengadopsi TSY sebagai alat screening, investor tidak akan lagi mengabaikan nama-nama kompoundir terbaik hanya karena dividen tunai yang tipis. Ini adalah lensa yang lebih jujur dan akurat untuk menilai nilai sebenarnya dari suatu saham di pasar AS.