Indeks saham Asia diperkirakan akan membuka perdagangan dengan pelemahan pada hari ini, seiring meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak mentah. Konflik bersenjata terbaru yang melibatkan Kuwait dan Bahrain telah mengguncang gencatan senjata yang rapuh, mendorong investor untuk beralih ke aset aman dan mengurangi eksposur pada saham berisiko. Kontrak berjangka indeks saham Jepang dan Hong Kong menunjukkan sinyal negatif sejak awal sesi, menghentikan reli empat hari berturut-turut yang sempat terjadi di kawasan.
Di Wall Street, kontrak berjangka saham AS kompak turun sekitar 0,4% setelah indeks S&P 500 menghentikan sembilan hari kenaikan beruntun dari rekor tertingginya. Pelemahan juga dipicu oleh aksi jual saham Broadcom Inc setelah jam perdagangan, menyusul proyeksi bisnis yang gagal memenuhi ekspektasi investor. Kondisi ini menambah sentimen negatif yang sudah terbebani oleh risiko geopolitik.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS stabil setelah melonjak 2,4% pada sesi sebelumnya. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan dan mengerek harga energi. Lonjakan harga minyak ini, bersamaan dengan data ketahanan pasar tenaga kerja AS, menekan harga obligasi pemerintah AS (Treasury) dan mendorong spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuan lebih lanjut.
Para analis menilai bahwa meskipun reli saham yang didorong sektor kecerdasan buatan (AI) sempat membawa indeks ke level tertinggi baru, gelombang risiko geopolitik saat ini mulai menguji ketahanan investor. Kombinasi tekanan inflasi dari kenaikan harga energi dan potensi perubahan kebijakan moneter menjadi faktor utama yang akan membentuk pergerakan pasar saham dalam jangka pendek. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan lanjutan dari ketegangan AS-Iran serta respons kebijakan the Fed.