Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang sangat dalam pada perdagangan sesi pertama, Rabu (3/6/2026), dengan penurunan mencapai 4,94% atau setara 305,94 poin ke level 5.889,48. Anjloknya indeks ini menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan kekhawatiran pasar yang semakin dalam terhadap fundamental ekonomi domestik.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menembus level Rp17.900 per dolar AS menjadi pemicu utama koreksi ini. Menurut analis pasar, depresiasi rupiah secara signifikan menurunkan minat investor terhadap aset berisiko, memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham. Di sisi lain, penguatan dolar AS dan tingginya suku bunga global mendorong investor global untuk beralih ke aset safe haven, memperburuk arus keluar modal asing yang sudah berlangsung beberapa waktu terakhir.
Tekanan tambahan berasal dari saham-saham konglomerasi yang dalam dua hari sebelumnya mengalami penguatan signifikan hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA). Aksi ambil untung yang masif terhadap saham-saham tersebut semakin membebani IHSG, memperdalam koreksi. Secara teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam fase downtrend dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, menurut pengamat teknikal.
Dari sisi domestik, pelaku pasar masih mencermati prospek pertumbuhan ekonomi nasional serta tingkat risiko investasi di Indonesia. Kombinasi antara sentimen eksternal—seperti kebijakan moneter ketat global—dan tekanan internal dari pelemahan rupiah membuat pasar saham Indonesia rentan terhadap gejolak jangka pendek. Para analis memperkirakan volatilitas masih akan tinggi hingga ada kejelasan mengenai langkah bank sentral dan stabilitas nilai tukar.