IHSG Anjlok Hampir 4% saat Rupiah Mendekati Rp18.000 dan Ketidakpastian Global Meningkat

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hampir 4% pada perdagangan Rabu (3/6/2026), mencatatkan penurunan 238 poin atau 3,85% ke level 5.966,93 pada sesi pagi. Tekanan jual yang masif ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, di antaranya pelemahan rupiah yang kian mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS serta meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Dari sisi eksternal, pasar masih dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan global yang mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Menurut Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama, kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor utama yang menekan minat beli di bursa saham domestik. “Market masih dibayangi kekhawatiran perlambatan ekonomi global serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan yang mendorong investor mengurangi eksposur ke aset berisiko,” ujarnya.

Sementara dari domestik, pelemahan rupiah menjadi sorotan utama. Nilai tukar yang mendekati Rp18.000 per dolar AS berpotensi memicu capital outflow dan meningkatkan risiko bagi emiten yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing. Investor pun cenderung lebih berhati-hati dan melakukan aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan terhadap IHSG. Koreksi simultan di sejumlah big caps ini memperparah penurunan indeks secara keseluruhan.

Faktor teknikal turut memperburuk tekanan di pasar. Penembusan level support kunci memicu aksi stop loss dari para trader, yang pada akhirnya meningkatkan volatilitas perdagangan. Elandry menilai kondisi ini membuat pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan sangat volatil dan penuh ketidakpastian.

Namun demikian, peluang technical rebound tetap terbuka jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing mereda. Elandry merekomendasikan investor untuk tetap selektif dengan fokus pada saham berfundamental kuat, serta menjaga porsi kas yang cukup guna mengantisipasi gejolak pasar yang masih tinggi. “Saat ini investor sebaiknya lebih selektif, fokus pada saham berfundamental kuat, dan menjaga porsi cash untuk mengantisipasi volatilitas yang masih tinggi,” pungkasnya.