IHSG Anjlok 4,11% ke Level 5.941,06, Sejumlah Emiten Justru Cetak Rekor ARA

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk drastis pada perdagangan Rabu (3/6/2026), tertekan oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Indeks ditutup merosot 254,36 poin (4,11%) ke level 5.941,06, bergerak fluktuatif di rentang 5.841 hingga 6.213. Total nilai transaksi tercatat mencapai Rp25,25 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 40,17 miliar saham dan frekuensi 2,76 juta kali. Di tengah laju negatif yang dominan, hanya 69 saham berhasil mencatatkan kenaikan, sementara 692 saham terpuruk dan 54 saham stagnan.

Menariknya, di balik koreksi dalam IHSG, sejumlah saham justru melesat hingga menyentuh batas auto rejection atas (ARA) dan mendominasi daftar top gainers. Meski demikian, seluruh sektor saham mengalami pelemahan. Sektor barang baku menjadi yang tertekan paling dalam dengan ambles 9,31%, disusul sektor energi (5,23%), infrastruktur (5,01%), kesehatan (4,32%), serta barang konsumsi primer (3,95%). Kondisi ini mencerminkan aksi risk off yang masif di kalangan pelaku pasar.

Dari sisi regional, mayoritas bursa Asia justru menguat. Straits Times Singapura naik 0,8%, Nikkei Jepang melonjak 2,5%, dan Shanghai China menguat 0,22%. Namun indeks Hang Seng Hong Kong anjlok 1,56%. Analis pasar menilai tekanan terhadap IHSG berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat kebuntuan negosiasi damai Amerika Serikat–Iran yang kembali memanas, sehingga memicu kekhawatiran akan stabilitas kawasan dan gangguan pasokan energi global. Di sisi domestik, tekanan juga berasal dari pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.900 per dolar AS, meskipun inflasi masih terkendali dan neraca perdagangan April mencatat surplus.

Selain faktor makro, isu penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung terkait program Makan Bergizi Gratis turut meningkatkan persepsi risiko investasi di dalam negeri. Kombinasi faktor-faktor tersebut mendorong pelaku pasar untuk melakukan aksi jual besar-besaran, menekan IHSG ke zona merah. Ke depan, investor perlu mencermati perkembangan geopolitik global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kondisi fundamental ekonomi domestik sebagai penentu arah pergerakan indeks.