Lonjakan indeks saham di Amerika Serikat terus berlanjut, dengan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq masing-masing mencatat rekor penutupan tertinggi. Di sisi lain, pasar saham Indonesia justru mengalami tekanan signifikan, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi hampir 30% secara year-to-date dan nilai tukar rupiah terus merosot terhadap dolar AS. Kontrasnya kinerja kedua bursa ini membuka diskusi mengenai potensi alokasi investasi ke pasar global.
Pada perdagangan Senin (1/6/2026), Dow Jones Industrial Average naik 0,09% ke 51.078,88, S&P 500 menguat 0,26% ke 7.599,96, dan Nasdaq Composite bertambah 0,42% ke 27.086,81. Kenaikan ini terutama didorong oleh sektor teknologi yang melesat 2,5%, dengan saham-saham seperti Nvidia, Microsoft, dan Alphabet menjadi motor utama. Momentum reli Wall Street kian kuat seiring optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan infrastruktur digital.
Sementara itu, IHSG pada Selasa (2/6/2026) memang sempat rebound 1,11% ke level 6.195,43, namun secara year-to-date indeks masih anjlok 29,18%. Rupiah di pasar spot juga melemah 0,19% ke Rp 17.839 per dolar AS, menambah kekhawatiran investor domestik. Kombinasi pelemahan IHSG dan depresiasi rupiah membuat investor mencari alternatif yang lebih stabil dan berpotensi memberikan imbal hasil lebih baik.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai investasi di saham AS menjadi opsi menarik untuk diversifikasi portofolio, terutama ketika pasar domestik tengah tertekan. Menurutnya, bursa AS menawarkan emiten global dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta akses ke sektor-sektor yang minim di Bursa Efek Indonesia seperti AI, cloud computing, cybersecurity, dan data center. “Reli Wall Street belakangan ini memang banyak ditopang saham teknologi dan tema AI,” ujarnya pada Selasa (2/6/2026).
Namun demikian, Budi mengingatkan bahwa indeks saham AS sudah berada di level rekor, sehingga valuasi tidak lagi murah dan risiko koreksi tetap tinggi. Saham-saham teknologi unggulan seperti Nvidia, Microsoft, dan Meta memang menjadi primadona, tetapi harganya sudah melambung. Founder Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima, menambahkan bahwa investor Indonesia perlu cermat dalam memilih instrumen, mempertimbangkan beban pajak, biaya transaksi, serta risiko nilai tukar. Diversifikasi tetap penting, tetapi harus disertai dengan analisis risiko yang matang.