Tren Suku Bunga Tinggi, Penerbitan Obligasi Diproyeksi Tetap Terbuka Tapi Selektif

Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan penerbitan obligasi korporasi akan lebih selektif setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan, di pasar obligasi, kenaikan suku bunga kebijakan biasanya menekan harga obligasi lama dan mendorong yield naik. Bagi emiten, kondisi ini berarti biaya penerbitan baru menjadi lebih mahal. Emiten yang tidak memiliki kebutuhan pendanaan mendesak dapat menunda penerbitan, memperpendek tenor, atau mencari sumber pendanaan alternatif. Namun, emiten dengan kebutuhan dan jatuh tempo besar tetap perlu masuk pasar untuk menjaga profil likuiditas.

“Prospek penerbitan obligasi korporasi setelah kenaikan suku bunga Bank Indonesia akan tetap terbuka, tetapi lebih selektif. Kenaikan BI-Rate menjadi 5,25% meningkatkan acuan biaya dana di pasar. Dampaknya tidak selalu langsung sama besar pada semua emiten, tetapi arah umumnya membuat investor meminta kompensasi imbal hasil lebih tinggi,” jelas Ahmad kepada Kontan, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: Dividen Turun, Kalbe Farma (KLBF) Pilih Perkuat Ekspansi di Tengah Tekanan Biaya

Ahmad mencatat kebutuhan refinancing pada semester II cukup besar. Jatuh tempo surat utang korporasi mencapai Rp 63,95 triliun pada kuartal III dan Rp 43,56 triliun pada kuartal IV. Dengan total jatuh tempo semester II sebesar Rp107,51 triliun, penerbitan obligasi masih berpotensi berada pada prospek yang baik meskipun biaya dana meningkat.

“Puncak jatuh tempo kuartal III akan menjadi salah satu faktor penting yang menjaga pasokan penerbitan,” terang Ahmad.

Dari sisi sektor, kebutuhan jatuh tempo terbesar pada 2026 berasal dari industri multifinance sebesar Rp 33,93 triliun, pulp dan kertas sebesar Rp 23,18 triliun, dan perbankan sebesar Rp 19,08 triliun. Sektor-sektor dengan kebutuhan jatuh tempo besar akan tetap menjadi sumber penerbitan potensial sepanjang tahun ini.

Ahmad menilai, sentimen utama yang memengaruhi obligasi korporasi ke depan adalah kenaikan suku bunga acuan dan repricing yield. Kenaikan BI-Rate ke level 5,25% memperkuat sinyal bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi prioritas kebijakan. Bagi pasar obligasi korporasi, sinyal tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam menilai tenor, kupon, dan risiko kredit emiten.

Sentimen kedua adalah kebutuhan refinancing yang masih besar. Jatuh tempo surat utang korporasi pada kuartal II menc… [content truncated]