Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperbarui daftar saham dengan kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) pada awal Juni 2026. Langkah ini ditempuh untuk meningkatkan kewaspadaan investor terhadap risiko likuiditas. Tiga emiten baru yang masuk dalam radar tersebut adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI), dan PT Mahkota Group Tbk (MGRO). Data menunjukkan bahwa kepemilikan agregat pihak tertentu pada ketiga saham ini telah melampaui 93%, mencakup saham dalam bentuk warkat maupun tanpa warkat.
Status HSC bersifat informatif dan tidak secara otomatis mengindikasikan adanya pelanggaran aturan di pasar modal. Namun, konsentrasi kepemilikan yang sangat tinggi pada segelintir pihak berpotensi memengaruhi likuiditas perdagangan saham di bursa. Saham-saham dengan HSC cenderung memiliki pergerakan harga yang lebih sensitif, karena dominasi pemegang saham mayoritas dapat menyebabkan fluktuasi tajam saat terjadi transaksi besar.
Sebelum pengumuman terbaru, sejumlah saham berkapitalisasi besar juga sudah masuk dalam daftar HSC. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) milik Prajogo Pangestu mencatatkan konsentrasi mencapai 97,31%, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dari Sinar Mas Grup memiliki konsentrasi sebesar 95,76%. Data ini disusun berdasarkan sinkronisasi antara BEI dan KSEI untuk memberikan transparansi kepada publik.
Investor diimbau untuk tetap waspada dan melakukan analisis mendalam terhadap risiko likuiditas pada saham-saham yang masuk dalam daftar HSC. Klasifikasi ini menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi, terutama mengingat volatilitas yang mungkin timbul akibat kepemilikan yang terkonsentrasi.