Tekanan Hukum Mendera Robinhood Pasca IPO 2021, Saham Anjlok Hingga 4%

Saham Robinhood Markets Inc. terpukul tajam pada perdagangan hari ini, kehilangan lebih dari 4% nilainya setelah muncul perkembangan hukum baru yang merugikan. Perusahaan investasi ritel asal Amerika Serikat itu dilaporkan menghadapi gugatan class action yang berpusat pada pelaksanaan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2021. Gugatan yang diajukan berdasarkan Securities Act of 1933 tersebut menuduh manajemen Robinhood memberikan informasi yang menyesatkan kepada publik mengenai kondisi keuangan dan prospek pertumbuhan perusahaan saat proses IPO.

Menurut dokumen gugatan, Robinhood dinilai gagal mengungkapkan sejumlah risiko krusial, termasuk ketergantungan yang sangat besar terhadap pendapatan musiman dari investasi cryptocurrency dan fenomena saham meme (meme stocks). Kedua sumber pendapatan ini memang melonjak drastis pada periode sekitar IPO, namun sifatnya yang tidak berkelanjutan justru menjadi bumerang bagi perusahaan ketika pasar berbalik arah. Akibatnya, valuasi saham yang semula ditawarkan pada level USD 38 per saham ambles hingga sekitar 80% selama periode 2022 hingga 2024.

Baru pada tahun 2025, harga saham Robinhood berhasil kembali menyentuh level IPO tersebut, namun volatilitas yang ekstrem tetap mewarnai pergerakannya. Dalam beberapa waktu terakhir, saham sempat mencatat reli signifikan—salah satunya melonjak sekitar 40% setelah perusahaan meluncurkan instrumen “investment tokens” yang memungkinkan akses ke saham perusahaan privat seperti OpenAI dan Anthropic. Meski demikian, sifat serta nilai fundamental dari instrumen baru ini masih sulit diperkirakan secara akurat, sehingga reli tersebut dinilai rapuh.

Di tengah ketidakpastian hukum, Mahkamah Agung Amerika Serikat yang kini menangani kasus Robinhood telah meminta pendapat resmi dari administrasi Presiden Donald Trump mengenai kualitas prospektus IPO dan dasar hukum yang mendasari gugatan. Langkah ini menambah tekanan bagi manajemen, karena putusan pengadilan berpotensi mengubah lanskap regulasi pasar modal. Dari sisi teknikal, grafik saham saat ini bergerak dalam kanal konsolidasi di antara level Fibonacci Retracement 50% dan 78,6%. Setelah menguji level 61,8%, harga sempat berhasil menembus ke area atas konsolidasi, namun tertahan di sekitar rata-rata pergerakan eksponensial (EMA). Indikator EMA justru masih mengirim sinyal bearish yang kuat, ditandai dengan titik mati (death cross) antara EMA100 dan EMA200.