SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, dikabarkan telah memperbarui dokumen penawaran umum perdana (IPO) yang mencakup alokasi hingga 5% saham untuk karyawan dan pihak-pihak terpilih. Langkah ini dikelola melalui program saham langsung yang bekerja sama dengan Morgan Stanley, menandai komitmen perusahaan untuk memberikan insentif kepada tenaga kerja inti di tengah rencana ekspansi besar-besaran.
IPO tersebut ditargetkan mampu menggalang dana sekitar $75 miliar, menjadikannya salah satu aksi korporasi terbesar di sektor teknologi global. Jika terealisasi, valuasi SpaceX diperkirakan akan melampaui sebagian besar perusahaan publik ternama, sejalan dengan ambisi perusahaan dalam menguasai pasar peluncuran satelit dan misi antariksa komersial.
Spekulasi mengenai potensi merger dengan Tesla juga kembali mengemuka setelah dokumen IPO diperbarui. Meski belum ada konfirmasi resmi, analis melihat sinergi antara teknologi kendaraan listrik Tesla dan sistem propulsi SpaceX dapat menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham kedua perusahaan. Di sisi lain, target jangka panjang SpaceX untuk membangun koloni di Mars tetap menjadi pilar utama strategi bisnis, didukung oleh pendanaan IPO yang masif.
Dari perspektif pasar saham, masuknya SpaceX ke bursa publik diprediksi akan menarik minat investor institusional dan ritel, terutama mereka yang selama ini kesulitan mendapatkan eksposur langsung ke perusahaan swasta bernilai tinggi ini. Analis memperkirakan bahwa IPO ini dapat memicu gelombang penawaran umum di subsektor antariksa komersial lainnya, seperti Blue Origin dan Virgin Galactic, meskipun fundamental bisnis masing-masing berbeda.
Namun, risiko tetap ada, termasuk volatilitas harga saham pasca-IPO dan ketergantungan pada kontrak pemerintah AS serta keberhasilan misi Starship. Investor disarankan untuk mencermati prospektus final dan laporan keuangan yang akan dirilis dalam waktu dekat sebelum mengambil keputusan investasi.