Indeks saham sektor energi (IDX Energy) mencatat pelemahan signifikan sepanjang tahun berjalan, terkoreksi hingga 33,56% secara year-to-date ke level 2.958,885. Performa tersebut menjadikannya indeks sektoral paling terpuruk di bursa, dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling memperkuat.
Dari sisi eksternal, tekanan utama berasal dari harga batubara termal yang telah jatuh cukup dalam dibandingkan level puncaknya pada 2024–2025. Perlambatan permintaan dari China, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta pasokan yang memadai menjadi katalis negatif. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah sempat mendorong indeks, namun kenaikan tersebut tidak berkelanjutan karena pasar lebih fokus pada risiko perlambatan ekonomi global dan potensi tambahan pasokan dari negara produsen.
Di dalam negeri, investor mulai mengantisipasi normalisasi laba emiten energi setelah periode supercycle komoditas. Akibatnya, terjadi rotasi dana besar-besaran menuju sektor yang dianggap lebih prospektif seiring penurunan suku bunga dan pemulihan ekonomi domestik, seperti perbankan, teknologi, dan konsumsi. Beberapa saham berkapitalisasi besar di sektor energi, terutama emiten batubara, mengalami tekanan akibat ekspektasi penurunan laba dan dividen dibandingkan masa puncak.
Analis menilai bahwa koreksi saham energi tidak semata-mata dipicu fundamental. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia menyebutkan bahwa saham konglomerasi energi dengan bobot besar terkoreksi karena faktor non-fundamental, seperti eksklusi indeks MSCI dan isu konsentrasi kepemilikan (high shareholder concentration). Selain itu, pengetatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batubara, kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), serta komitmen impor energi juga menambah tekanan. Meski demikian, sebagian saham sektor ini masih berpotensi memberikan nilai bagi investor yang mampu mencermati siklus dan kebijakan ke depan.