Perlombaan kecerdasan buatan (AI) kini telah meluas melampaui sekadar perangkat lunak dan chatbot. Persaingan sengit kini merambah ke infrastruktur krusial seperti pasokan listrik, pusat data, dan yang paling vital, produksi chip semikonduktor. Dalam lanskap yang berubah drastis ini, muncul prediksi menarik bahwa Elon Musk, melalui SpaceX, berpotensi melakukan akuisisi besar-besaran terhadap raksasa chip Intel, sebuah langkah yang diprediksi akan mengguncang pasar dan para investor SpaceX.
Nilai transaksi yang diperkirakan mencapai USD 1 triliun, atau sekitar Rp 17.799 triliun, untuk mengakuisisi Intel memang terdengar mengejutkan pada pandangan pertama. Apalagi, kapitalisasi pasar Intel sendiri, yang saat ini berada di kisaran USD 607 miliar, telah mengalami tantangan dalam beberapa tahun terakhir akibat penurunan pangsa pasar dan kendala dalam proses manufaktur. Namun, dalam dunia akuisisi strategis, valuasi sering kali tidak hanya didasarkan pada kinerja finansial saat ini, melainkan lebih kepada potensi dan kendali di masa depan.
Menurut analisis dari 247Wallst, kepemilikan Intel atas pabrik fabrikasi yang sudah mapan di Amerika Serikat, pengalaman puluhan tahun dalam industri semikonduktor, ribuan insinyur ahli, serta hubungan dekat dengan para pembuat kebijakan di Washington D.C., merupakan aset tak ternilai. Semua ini dapat secara signifikan mempercepat rencana SpaceX dalam membangun fasilitas produksi semikonduktornya sendiri, dibandingkan jika harus memulai dari nol. Kemampuan untuk membangun pabrik baru dari awal akan memakan waktu bertahun-tahun dan memerlukan investasi awal yang sangat besar, sementara akuisisi Intel menawarkan jalan pintas yang strategis.
Prediksi akuisisi ini muncul di tengah laporan yang mengindikasikan bahwa Musk tengah menjajaki kemungkinan penggabungan Tesla dan SpaceX menjadi sebuah konglomerat teknologi raksasa yang nilai totalnya bisa melampaui USD 3 triliun. Meskipun belum ada proposal merger resmi yang diajukan, logika strategis di balik gagasan tersebut semakin kuat.
Setiap lini bisnis yang dikembangkan oleh Elon Musk memiliki kebutuhan komputasi yang luar biasa. Sistem penggerak otonom yang menjadi tulang punggung kendaraan Tesla memerlukan daya pemrosesan yang masif. Demikian pula, jaringan satelit Starlink milik SpaceX sangat bergantung pada optimalisasi AI dan perangkat keras khusus untuk kinerja yang superior.
Perusahaan xAI yang didirikan Musk pun tengah dalam proses membangun pusat data berskala besar ya… [content truncated]