Rekor Baru Nasdaq di 27.000: Gelombang Belanja AI Infrastruktur Mengalahkan Risiko Geopolitik

Wall Street mencatatkan sejarah pada awal pekan ini dengan tiga indeks utama sekaligus menembus rekor. S&P 500 naik 0,26% ke 7.599,96, Dow Jones Industrial Average bertambah 0,09%, dan Nasdaq Composite melesat 0,42% ke 27.086,81—untuk pertama kalinya dalam sejarah menembus level psikologis 27.000. Pencapaian ini terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah yang dipicu eskalasi ketegangan Iran-AS, di mana WTI melonjak 5,93% ke 92,54 dolar AS per barel dan Brent naik 4,24%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ikut naik ke 4,46%, sementara emas justru terkoreksi 1,90%. Namun, faktor utama yang mendorong reli saham bukanlah data makro tradisional, melainkan narasi belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang kembali memanas.

Dua katalis besar muncul bersamaan dan memperkuat sentimen ekosistem AI. Alphabet mengumumkan alokasi belanja modal hingga 80 miliar dolar AS untuk pengembangan AI, jauh di atas estimasi sebelumnya. Di sisi lain, Anthropic—pesaing utama OpenAI—secara resmi mengajukan penawaran umum perdana (IPO) secara rahasia kepada regulator AS. Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi Microsoft sebagai investor OpenAI dan Alphabet sebagai investor Anthropic, tetapi juga memberikan angin segar bagi saham-saham AI seperti Nvidia, yang terus menggenjot chip terbaru Vera Rubin. Investor kini melihat belanja multi-tahun ini sebagai fondasi bagi pertumbuhan hyperscaler dan rotasi modal besar-besaran ke ekosistem AI.

Meskipun ketegangan geopolitik memicu lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi, pasar saham justru mengabaikan risiko tersebut dan memilih untuk fokus pada prospek belanja AI. Tiga sinyal makro yang patut dicermati adalah harga minyak yang melonjak 5,9% akibat Iran dilaporkan menghentikan komunikasi dengan AS, imbal hasil US 10Y yang naik ke 4,46% sebagai premi risiko ke obligasi, dan emas yang justru turun 1,90% karena capital outflow ke aset berisiko. Pasar menyerap gejolak Timur Tengah melalui narasi AI yang jauh lebih kuat, mengindikasikan bahwa sentimen risiko tetap positif selama cerita belanja modal AI masih dominan.

Dampak sektoral mulai terlihat jelas. Sektor energi, seperti Exxon Mobil dan Chevron, berpotensi gap up mengikuti lonjakan minyak 5,9%, sementara maskapai penerbangan seperti Delta Air Lines dan United Airlines bisa tertekan akibat kenaikan biaya bahan bakar. Dari sisi semikonduktor, Analog Devices dipantau sebagai pemain analog yang ikut menerima limpasan belanja modal AI dari hyperscaler. Dengan Alphabet yang menyuntikkan 80 miliar dolar dan Anthropic yang melaju ke pasar publik, saham-saham seperti Alphabet, Nvidia, dan Advanced Micro Devices menjadi incaran langsung. Malam ini, investor tidak akan bertanya tentang Iran, melainkan seberapa besar premium yang masih bersedia dibayar untuk cerita AI yang kian ekspansif.