Momentum Hari Raya Iduladha yang identik dengan lonjakan konsumsi protein hewani diproyeksikan tidak akan menjadi puncak bagi industri perunggasan nasional. Para analis justru melihat sektor poultry masih memiliki ruang pertumbuhan yang menjanjikan hingga paruh kedua tahun 2026, didorong oleh pemulihan daya beli masyarakat dan stabilitas pasokan yang lebih terjaga.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menilai bahwa sejumlah faktor fundamental akan terus menopang kinerja emiten seperti Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan Japfa Comfeed Indonesia (JPFA). Konsumsi daging ayam yang tetap menjadi pilihan utama karena harganya yang terjangkau, ditambah dengan kebijakan pengendalian populasi dan penyesuaian kuota impor indukan ayam (GPS dan PS), telah menciptakan keseimbangan pasar yang lebih sehat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini berpotensi menjaga harga jual di tingkat peternak tetap kokoh dan memperlebar margin bagi perusahaan unggas terintegrasi.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) ayam ras sebanyak 800.000 ekor untuk menjamin ketersediaan protein nasional, di mana 580.000 ekor di antaranya didatangkan dari Amerika Serikat melalui kesepakatan perdagangan timbal balik. Langkah ini tidak hanya mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi fokus kebijakan saat ini, tetapi juga diprediksi akan mendorong permintaan daging ayam secara signifikan dalam jangka menengah, mengingat komoditas ini dianggap ekonomis dan mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
Memasuki semester kedua 2026, para pelaku industri juga menaruh harapan besar pada momentum musiman seperti libur sekolah, perayaan Natal, dan Tahun Baru yang secara historis mampu meningkatkan konsumsi protein hewani. Dengan fundamental yang kuat dan dukungan kebijakan pemerintah, saham-saham unggas seperti CPIN dan JPFA diperkirakan akan tetap menjadi incaran investor yang mencari eksposur pada sektor konsumen yang stabil dan bertumbuh.