Emiten energi terbarukan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), mencatatkan lonjakan harga saham yang signifikan pada perdagangan Selasa (2/6/2026). Saham BREN melesat 24,85% hingga menyentuh level Rp4.120 per lembar, mengerek kapitalisasi pasarnya menjadi Rp551 triliun. Dengan pencapaian tersebut, BREN kembali menempati peringkat kedua di jajaran saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia, setelah sebelumnya sempat terlempar ke peringkat ketujuh akibat koreksi harga.
Dalam sepekan terakhir, saham BREN telah melonjak hingga 56%, namun secara year-to-date masih terkontraksi 57,5% dan dalam sebulan terakhir turun 7,6%. Lonjakan ini terjadi setelah periode tekanan jual yang dipicu oleh realokasi portofolio indeks MSCI (MSCI rebalancing) pada bulan sebelumnya. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa koreksi yang sempat dialami saham BREN dan emiten Grup Prajogo lainnya lebih disebabkan oleh faktor technical selling dan passive outflow pasca pengumuman rebalancing.
Namun, dalam jangka panjang, Wafi menekankan bahwa arah pergerakan saham akan ditentukan oleh fundamental perusahaan, likuiditas, dan kemampuan emiten menjaga pertumbuhan bisnis. Ia memperkirakan Grup Prajogo akan mengambil langkah-langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan pasar, seperti memperkuat cerita fundamental melalui ekspansi bisnis, menjaga pertumbuhan laba, serta meningkatkan proporsi free float agar likuiditas saham lebih baik.
Sementara itu, peringkat pertama kapitalisasi pasar bursa masih diduduki oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai Rp711 triliun. Di belakang BREN, terdapat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp456 triliun, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) Rp453 triliun, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp385 triliun. Langkah penyelamatan saham BREN ke depan akan menjadi kunci bagi investor untuk mencermati potensi rebound lebih lanjut di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.