Futures saham Amerika Serikat menunjukkan pelemahan pada perdagangan awal, setelah indeks utama mencatatkan rekor penutupan tertinggi di sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah pernyataan Presiden Donald Trump yang mengindikasikan ketidakpedulian terhadap kemungkinan gagalnya negosiasi dengan Iran, sembari memprediksi harga minyak dan bensin akan terus turun. Sikap tersebut memicu kehati-hatian pelaku pasar terhadap potensi eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS cenderung stabil, mencerminkan ekspektasi pasar yang masih menunggu kepastian kebijakan moneter. Pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan kembali mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan Juni mendatang, mengingat data inflasi yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara signifikan. Kondisi ini membuat investor fokus pada sinyal-sinyal dari The Fed terkait arah kebijakan ke depan.
Meskipun sektor teknologi, khususnya saham semikonduktor kecerdasan buatan (AI), sempat menjadi motor penggerak rekor baru S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones, tekanan jual jangka pendek mulai muncul seiring faktor eksternal. Para analis menilai volatilitas pasar masih akan berlanjut, dengan keseimbangan antara optimisme terhadap fundamental ekonomi dan kekhawatiran akan ketidakpastian geopolitik serta suku bunga yang tetap tinggi.

