ekspor |Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara|PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI)|bursa komoditas|devisa|ekspor komoditas|pasar modal| ferroalloy |batubara|Crude Palm Oil (CPO)
Pasardana.id – Pemerintah resmi memulai masa transisi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) untuk tiga komoditas strategis, yakni batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferroalloy mulai 1 Juni 2026.
Kebijakan ini menjadi salah satu langkah paling ambisius Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kendali negara terhadap perdagangan sumber daya alam sekaligus meningkatkan penerimaan devisa.
Dalam skema tersebut, seluruh eksportir diwajibkan melaporkan aktivitas ekspornya kepada DSI selama masa transisi.
Implementasi penuh dijadwalkan berlaku pada 1 Januari 2027, ketika DSI akan bertransformasi menjadi entitas perdagangan yang membeli komoditas dari produsen domestik dan menjualnya ke pasar global.
Pemerintah beralasan kebijakan ini bertujuan menekan praktik under-invoicing, transfer pricing, serta memastikan devisa hasil ekspor tetap berada di dalam negeri guna memperkuat cadangan devisa dan stabilitas rupiah.
“Sekali lagi, ini adalah memperkuat pengawasan dan tata kelola ekspor. Tujuannya untuk mencegah praktik under invoicing, transfer pricing, dan terkait dengan pelarian devisa hasil ekspor,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam konferensi pers persiapan operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di Jakarta, Minggu (31/5).
Bagi pasar modal, kebijakan ini menciptakan dua sentimen yang saling bertolak belakang.
Dalam jangka pendek, pasar cenderung merespons negatif akibat meningkatnya ketidakpastian.
Bahkan, Reuters melaporkan, pengumuman kebijakan tersebut sempat memberikan tekanan terhadap pasar saham karena investor khawatir margin keuntungan emiten komoditas akan tergerus akibat potensi intervensi harga dan perubahan mekanisme ekspor.
Sektor yang paling rentan terkena tekanan adalah:
-Emiten batu bara seperti PT Bumi Resources Tbk, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk.
-Emiten sawit seperti PT Astra Agro Lestari Tbk, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk, dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.
-Emiten nikel dan ferroalloy seperti PT Vale Indonesia Tbk, PT Merdeka Battery Materials Tbk, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk.
Dalam jangka menengah hingga panjang, dampaknya berpotensi berbeda.
Jika pemerintah mampu menciptakan… [content truncated]